“Asiah yang membisiki Fir’aun untuk merawat Musa. Suaminya kafir, tapi ia istri sholihah dan mampu membawa kebaikan. Kita juga bisa mengambil pelajaran dari Hawa. Setelah dibisikkan oleh setan, Hawa membisikkan suaminya untuk memakan buah yang dilarang, sehingga mereka keluar dari surga. Maka, hati-hati dengan membisik-bisiki suami.”

Keluarga Dakwah – Istri Pembisik Suami

“Untuk kita para istri, berhati-hatilah! Karena istri berpotensi membisik-bisiki suami.” Ujar Ustadzah Poppy Yuditya, MBA dalam pertemuan kedua Sekolah Orangtua, di Azhari Islamic School Jakarta Selatan, Sabtu (26/10/2013)

Dalam materi “Peran Ibu Rumah Tangga dan Harmonisasi Suami Istri”, ibu dari dua putra ini menegaskan bahwa istri lah pembisik paling berpengaruh sehingga suami menjadi benar, atau menjadi salah. Istri dapat mempengaruhi tindakan-tindakan yang dilakukan suami.

“Asiah yang membisiki Fir’aun untuk merawat Musa. Suaminya kafir, tapi ia istri sholihah dan mampu membawa kebaikan. Kita juga bisa mengambil pelajaran dari Hawa. Setelah dibisikkan oleh setan, Hawa membisikkan suaminya untuk memakan buah yang dilarang, sehingga mereka keluar dari surga. Maka, hati-hati dengan membisik-bisiki suami.” Ungkapnya.

Manajer training di Tim Parenting Nabawiyah ini menyampaikan pelajaran yang dapat diambil dari kisah istri Nabi Nuh. Seorang istri yang membangkang pada suaminya. Ketika Nabi Nuh membuat perahu, istrinya lah yang paling dahulu melecehkan apa yang dilakukan suaminya. Karena bisikan dari ibunya tersebutlah, anak Nabi Nuh tidak percaya pada ayahnya. Sehingga, keduanya menolak mematuhi dan ikut Nabi Nuh.

“Hati-hati bicara tentang ayah di hadapan anak-anak mereka. Karena bisa jadi, itu yang membuat anak-anak sulit berbakti pada orangtuanya.” Tegasnya.

Perempuan yang memilih menjadi Ibu Rumah Tangga ini pun memaparkan peran istri sholihah dalam rumah tangga. Pertama, Menentramkan suami. Kedua, menjaga rumah suami. saat suami memiliki masalah, maka istrilah yang harus membantu menenangkan bukan malah menambah masalah.

“Mari kita berkaca, sudahkah menjadi istri yang sholihah? Sudahkah kita membuat suami tenteram jika ia di samping kita dan di dalam rumah kita? Sudahkah kita memberi sebaik-baik pelayanan?” tanyanya di hadapan para ibu yang hadir.

“Belajarlah pada Bunda Khodijah yang menyelimuti dan menguatkan Nabi saat mendapat wahyu pertama kali.” serunya lagi.

Alumnus FT UI dan International Business UNISA Australia ini menyatakan bahwa, saat menjadi istri, jadilah istri yang terbaik. Sebagian perempuan membuat pilihan: menjadi istri yang baik atau menjadi ibu yang baik. Seolah menjadi ibu yang baik untuk mendahulukan kepentingan anak-anak di atas kepentingan suami adalah sesuatu yang mutlak benar.

“Jadi istri yang baik atau ibu yang baik bukan untuk dipertentangkan dan dipilih. Keduanya adalah kewajiban. Ada saatnya mendahulukan suami daripada anak-anak, atau sebaliknya. Karena peran ibu rumah tangga bukan hanya melulu soal anak.” Tandasnya. (PN/KD)