Bersama dalam Islam

Agar Doa Kita Terkabulkan

Agar Doa Kita Terkabulkan

0

Keluarga Dakwah – AGAR DOA KITA TERKABULKAN

Allah SWT telah menyatakan dalam surat Al Mu’min ayat ke 60 bahwa dirinya akan menjawab doa-doa yang dipanjatkan oleh hambaNya.

وقال ربكم ادعوني استجب لكم

“Dan Tuhanmu berfirman : berdoalah kepadaku! Niscaya akan aku kabulkan bagimu” (Al mukmin”60)

Allah SWT juga berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 186:

وإذا سألك عبادي عني فإني قريب، أجيب دعوة الداع إذا دعان

Dan apabila hamba-hambaku bertanya kepadamu tentang diriku wahai Muhammad, maka sesungguhnya aku dekat, aku mengabulkan doa-doa apabila ada yang berdoa kepadaku

Imam Muhammad Al Qurthubi dalam tafsirnya Al Jami’ Liahkamil Quran menerangkan mengenai asbabun nuzul ayat tersebut,

Dikisahkan bahwa orang-orang yahudi bertanya kepada Rasulullah SAW, “Bagaimana Allah SWT akan mendengar doa kita sementara kamu mengatakan wahai Muhammad bahwa jarak antara kita dengan langit adalah sejauh lima ratus tahun perjalanan?”

Maka turunlah surat Al Baqarah ayat 186 ini.

Dari kedua ayat tersebut kita dapat mengetahui bahwa menjawab serta mengabulkan doa merupakan salah satu sifat Allah SWT yang menjadikannya layak atau wajib untuk kita sembah dan kita ibadahi.

Namun apakah setiap orang yang memanjatkan doa pasti akan dikabulkan, adakah syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang hamba agar doanya dikabulkan oleh Allah SWT.

Rasulullah SAW bercerita dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah RA,

ثم ذكر الرجل يطيل السفر أشعث أغبر يمد يديه إلى السماء يا رب يا رب ومطعمه حرام ومشربه حرام وملبسه حرام وغذي بالحرام فأن يستجاب له

“Ada seseorang yang melakukan perjalanan jauh dalam keadaan kumal dan berdebu. Lalu dia mengangkat tangannya ke langit seraya berkata Ya Robbi Ya Robbi, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dia mencukupi kebutuhannya dengan harta haram, maka bagaimana doanya bisa dikabulkan?” (HR Muslim)

Dr Abdullah Azzam dalam kitabnya Tarbiyah Jihadiyah memberikan penjelasan yang cukup bagus mengenai hadits ini.

Menurut beliau setidaknya ada empat hal yang bisa dijadikan ibroh atau pelajaran dari hadits tersebut.

Yang pertama, diceritakan bahwa yang berdoa di sini adalah seorang musafir yang melakukan perjalanan jauh.

Seseorang yang melakukan perjalanan jauh akan terpisah dari orang-orang yang dicintai dan mencintainya, baik keluarga, saudara, ataupun teman-teman dekatnya. Dalam situasi seperti itu manusia akan cenderung merasa kesepian dan sedih. Dan ketika dalam kesedihannya itu, dia justru memilih untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT, tentu Allah SWT akan mengabulkannya.

Bahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad Rasulullah SAW menjamin terkabulnya doa seseorang yang melakukan perjalanan jauh.

ثلاث مستجاب لهم دعوتهم : المسافر والوالد والمظلوم

“Tiga golongan yang doanya dikabulkan : Pertama, seorang musafir yang melakukan perjalanan, Kedua, orang tua yang mendoakan anaknya, ketiga, orang yang terdholimi (HR Ahmad)”

Lalu yang kedua, di sini disebutkan tentang keadaan musafir tersebut, أشعث kumal أغبر berdebu.

Kedua hal ini merupakan ‘ibarah atau gambaran akan sikap rendah hati seseorang. Allah SWT hanya akan menerima doa dari orang-orang yang merendahkan diri di hadapanNya. Dan Allah SWT sungguh tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan dirinya.

Sebagaimana nasehat seorang Luqman kepada anaknya, yang di mana nasehat-nasehat tersebut diabadikan di dalam Al Qur’an yaitu dalam surat Luqman, dan salah satu nasehatnya adalah surat Luqman ayat yang ke 18,

إن الله لا يحب كل مختال فخور

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan dirinya” (QS Luqman:18)

Lalu yang ketiga, musafir tersebut menengadahkan kedua tangannya ke langit. Menengadahkan kedua tangan ke arah langit ketika berdoa merupakan salah satu faktor yang akan membantu agar doa kita diterima.

Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah SAW besabda:

إن الله تعالى حَيِيٌّ  كريم يَسْتَحْيِيْ إذا رفع الرجل إليه يديه أن يَرُدَّهُمَا صفرا خائبتين

“Sesungguhnya Allah SWT Maha Hidup lagi Maha Mulia, dan dia akan merasa malu ketika ada seorang hambaNya yang mengangkat kedua tangannya kepadaNya, dia akan merasa malu jika mengembalikan kedua tangan tersebut dalam keadaan hampa dan sia-sia” (HR Ahmad)

Selanjutnya yang keempat, musafir tersebut ketika berdoa mengucapkan kalimat, “ya robbi ya robbi” Wahai Tuhanku Wahai Tuhanku. Hal ini menunjukkan penghormatan kepada Allah SWT, lafadz ini juga berarti sebuah ungkapan permohonan akan rahmat serta belas kasihan dari Allah SWT.

Faktor Terpenting Agar Doa Terkabul

Namun ternyata keempat hal tadi, yaitu statusnya sebagai seorang musafir, lalu dia merendahkan dirinya kepada Allah, mengangkat kedua tangannya ke arah langit dan memuji-muji Allah SWT tidak serta merta menjadikan doanya dikabulkan oleh Allah SWT.

Di mana dalam kalimat selanjutnya disebutkan “tetapi makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dia memenuhi kebutuhannya dengan harta haram, bagaimana doanya bisa terkabul?”

Setidaknya ada dua hal yang bisa kita simpulkan dari rangkaian kalimat penutup hadits tersebut, yang pertama adalah tentang pentingnya mengambil, memakan ataupun menggunakan harta yang halal, dan yang kedua adalah bahwa harta yang halal menjadi faktor terpenting dalam menentukan terkabul atau tidaknya sebuah doa.

Rasulullah SAW sangat mewanti-wanti umatnya dalam persoalan kehalalan harta ini. Beliau memerintahkan kita agar sangat ketat dalam mengaudit diri kita sendiri, kita tidak boleh  membiarkan secuil pun makanan haram masuk ke dalam mulut kita.

Suatu ketika sahabat Saad bin Abi Waqqash memohon kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, mohonkanlah kepada Allah agar doaku selalu dikabulkan” Maka Rasulullah pun menjawab, “Wahai Saad, perbaikilah makananmu, niscaya doamu dikabulkan. Sesungguhnya ada seseorang yang memasukkan sesuap makanan haram ke dalam mulutnya. Maka Allah tidak menerima shalatnya selama empat puluh hari.”(HR Ath Thabrani)

Dan di dalam hadits yang lainnya Rasulullah juga mengatakan, “Sesungguhnya ada seseorang yang membeli baju dengan harga sepuluh dirham, namun dari sepuluh dirham itu ada satu dirham yang haram, Maka Allah tidak bisa menerima amalannya selama baju itu melekat padanya” (HR Ahmad)

Maka sudah semestinya seorang muslim menghabiskan menit-menit hidupnya untuk bermuhasabah, mengintrospeksi dirinya, sudah seratus persen halalkah harta yang dimilikinya, sudah seratus persen halalkah sarapan pagi yang disantap keluarganya, sudah seratus persen halalkah jilbab halus yang dikenakan istrinya, sudah seratus persen halalkah uang jajan anaknya.

Karena jika ada sekeping hartanya yang bersumber dari sesuatu yang haram, niscaya  harta itu tidak akan bermanfaat sedikit pun baginya dan hanya akan menjauhkan dirinya dari keridhaan Allah SWT, meskipun dia mentasarufkannya dalam amal-amal shalih semisal perbaikan jalan, pembangunan masjid, ataupun berkorban 7 ekor sapi dan sepuluh ekor unta.

Sebagaimana yang disampaikan oleh sahabat Ibnu Abbas RA, “Sesungguhnya keburukan tidak dapat menghapus keburukan lainnya”

Leave A Reply

Your email address will not be published.