Muslim Sejati, Generasi Khilafah

Keluarga Dakwah – Muslim Sejati, Generasi Khilafah

Sebuah pelajaran dan skenario Ilahi terpenting dari diciptakannya Nabi Adam –alaihis Salaam- dan diturunkannya di atas muka bumi ini adalah untuk menjadi kholifah. Secara gamblang dan jelas disebutkannya tujuan tersebut dalam firman Allah ta’ala:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ (30)

Artinya: “Dan ingatlah ketika Robbmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi. Mereka (malaikat) berkata: “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di muka bumi, sedangkan kami senantiasa bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia (Allah) berfirman: “Sesungguhnya Aku Mengetahui apa yang tidak kalian ketahui”. [QS. Al Baqoroh: 30]

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa kata Kholifah secara bahasa bermakna yang datang sesudahnya, atau juga berarti orang yang diberi tugas sebagai wakil dan pengganti. Bentuk mashdar dari kata kholifah adalah khilafah. Berkaitan dengan ayat di atas maka maksud dari kata kholifah secara khusus adalah Nabi Adam dan tugasnya adalah melaksanakan segala perintah dan keinginan Allah dalam rangka untuk memakmurkan bumi. [At Tahrir wa At Tanwir; 1/ 399]

 Imam Ibnu Katsir –rohimahulloh- lebih menguatkan pendapat ulama yang menjelaskan bahwa yang dimaksud kholifah dalam ayat tersebut bukan secara khusus Nabi Adam semata melainkan adalah jenis manusia yang menjadi keturunannya. Selanjutnya beliau menukilkan pendapat Imam al Thobari –rohimahulloh- yang menjelaskan fungsional kholifah yaitu orang yang memutuskan perkara di tengah manusia, menghilangkan kedzoliman dan mencegah perkara haram dan dosa [Tafsir Ibnu Katsir; 1/ 216]. Melalui definisi dan penjelasan ini bisa kita fahami bahwa orang yang mau melaksanakan perintah dan keinginan Allah dalam rangka memakmurkan bumi dengan menghilangkan kedzoliman, memutuskan perkara di tengah manusia dan mencegah perkara haram dan dosa, bisa dipastikan orang yang dimaksud adalah orang mukmin. Karena hanya orang mukmin saja yang siap sedia melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Dalam teori tatanan negara, kholifah memiliki definisi sebagai pimpinan tertinggi kaum mukminin yang mengatur seluruh umat berdasarkan pandangan syariat dalam mewujudkan maslahat-maslahat ukhrowi dan duniawi yang akan kembali kepada ukhrowi [Konsep Kepemimpinan dalam Islam; hal 39]. Ditinjau dari aspek sejarah peradaban manusia, keberadaan khilafah (kepemimpinan umat) menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Fakta dan data penting dari perkara ini adalah pengutusan para nabi dan rosul di tengah manusia yang memiliki tujuan khusus di antaranya adalah mengemban tugas khilafah di atas muka bumi ini.

Nabi Muhammad -shollallohu ‘alaihi wa sallam- pernah bersabda menjelaskan tentang kepemimpinan para nabi dan rosul, selanjutnya beliau memberikan isyarat akan munculnya para kholifah di kemudian hari sebagai konsokwensi berakhirnya masa kenabian sepeninggal beliau:

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ فُوا بِبَيْعَةِ الْأَوَّلِ فَالْأَوَّلِ أَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ

Artinya: “Dahulu Bani Israil senantiasa dipimpin oleh para nabi, setiap meninggalnya seorang nabi maka akan digantikan dengan nabi berikutnya, dan sesungguhnya tidak ada nabi sepeninggalku. Dan akan muncul sesudahku para kholifah lalu jumlah mereka banyak. Mereka (para sahabat) bertanya: “Lalu apa kiranya yang engkau perintahkan kepada kami? Beliau menjawab: “Tepatilah baiat yang pertama, berikanlah kepada mereka hak-haknya, sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban dari apa yang mereka pimpin”.[HR. Bukhori].

Berkaitan dengan informasi futuristik tentang khilafah, Nabi Muhammad -shollallohu ‘alaihi wa sallam- juga menyebutkan dalam sebuah haditsnya bahwa kaum muslimin akan menjumpai lima fase kepemimpinan. Lima fase kepemimpinan itu adalah:

  1. Fase kepemimpinan Nabi (sudah berlangsung)
  2. Fase khilafah ‘ala minhajin nubuwah -khilafah atas pedoman Nabi- (sudah berlangsung hingga tahun ke 41 H)
  3. Fase kepemimpinan para raja (sudah berlangsung hingga runtuhnya kekholifahan terakhir yaitu Ddinasti Turki Utsmani di tahun 1924 M)
  4. Fase kepemimpinan diktator dan tiran (sedang berlangsung)
  5. Fase khilafah ‘ala minhajin nubuwah -khilafah atas pedoman Nabi- (akan muncul di kemudian hari). [HR. Ahmad]

Kabar dari Nabi ini mengisyaratkan bahwa kelak di kemudian hari akan muncul kembali khilafah ‘ala minhajin nubuwah. Jika diperhatikan dalam hadits tersebut akan kita dapati bahwa penyebutan fase kelima sama persis dengan fase kedua. Hal ini bermakna kepemimpinan kaum muslimin di akhir zaman sebelum kiamat tiba adalah seperti kepemimpinan para sahabat Nabi yang memenuhi bumi ini dengan keadilan setelah sebelumnya kedzoliman merebak di mana-mana.

Kemudian yang menjadi pertanyaan besarnya adalah “siapakah yang berani memunculkan kembali khilafah ‘ala minhajin nubuwwah di era penuh represif dari kaum kuffar?”. Jawabannya adalah kaum muslimin yang senantiasa berupaya meneladani kesholihan generasi para sahabat. Karena khilafah ‘ala minhajin nubuwah di fase kedua terjadinya di zaman para sahabat Nabi dan fase kelima disebutkan sama persis dengan fase kedua. Hal ini mengindikasikan bahwa generasi yang memperjuangkan tegaknya syariat Allah dan khilafah Islamiyah senantiasa meneladani generasi sahabat nabi dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan cara yang ihsan.

Lalu bagaimanakah meneladani generasi sahabat nabi itu? Gambarannya adalah seperti yang diungkapkan oleh Imam al Auza’i –rohimahulloh- : “Ada lima perkara yang selalu melekat pada generasi sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan; (1) melazimi hidup berjama’ah,(2) mengikuti sunah, (3) memakmurkan masjid, (4) tilawatul Quran dan (5) jihad di sabilillah”.[Syu’abul Iman; 4/372]

Muslim sejati akan selalu berupaya meneladani para pendahulu dari kalangan salaf sholih. Salah satu perjuangan yang senantiasa dikobarkan oleh mereka adalah penjagaan syariat khilafah. Sebuah sunnah syar’iyyah yang tidak boleh diingkari oleh setiap individu yang telah mengikrarkan  dua kalimat syahadat.

Dari uraian singkat ini bisa kita ambil kesimpulan bahwa permasalahan khilafah Islamiyah menjadi bagian tak terpisahkan dalam diri seorang muslim di semua aspeknya, baik dalam aspek aqidah, fiqh dan historisnya. Di akhir zaman seperti saat sekarang ini, hanya ada dua pilihan di hadapan kita. Menjadi bagian dari pembela syariat dan berkontribusi untuk tegaknya khilafah ‘ala minhajin nubuwah ataukah menjadi bagian dari golongan pembenci syariat dan penjegal khilafah.

Hanya kepada Allah -Jalla Tsanauh- kita memohon agar dikumpulkan bersama hamba-hamba-Nya yang mencintai syari’at-Nya dan menjadi bagian dari anshorulloh (Para penolong agama Allah) demi tegaknya kembali khilafah Rosyidah hingga peribadatan hanya untuk Allah semata.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه ومن الاه

والله أعلم بالصواب

Hamba Allah yang faqir dengan ampunan-Nya

7 Dzulqo’dah 1438 H

Abu Athif –غفر الله له ولوادليه-

AGAR DOA KITA TERKABULKAN

Keluarga Dakwah – AGAR DOA KITA TERKABULKAN

Allah SWT telah menyatakan dalam surat Al Mu’min ayat ke 60 bahwa dirinya akan menjawab doa-doa yang dipanjatkan oleh hambaNya.

وقال ربكم ادعوني استجب لكم

“Dan Tuhanmu berfirman : berdoalah kepadaku! Niscaya akan aku kabulkan bagimu” (Al mukmin”60)

Allah SWT juga berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 186:

وإذا سألك عبادي عني فإني قريب، أجيب دعوة الداع إذا دعان

Dan apabila hamba-hambaku bertanya kepadamu tentang diriku wahai Muhammad, maka sesungguhnya aku dekat, aku mengabulkan doa-doa apabila ada yang berdoa kepadaku

Imam Muhammad Al Qurthubi dalam tafsirnya Al Jami’ Liahkamil Quran menerangkan mengenai asbabun nuzul ayat tersebut,

Dikisahkan bahwa orang-orang yahudi bertanya kepada Rasulullah SAW, “Bagaimana Allah SWT akan mendengar doa kita sementara kamu mengatakan wahai Muhammad bahwa jarak antara kita dengan langit adalah sejauh lima ratus tahun perjalanan?”

Maka turunlah surat Al Baqarah ayat 186 ini.

Dari kedua ayat tersebut kita dapat mengetahui bahwa menjawab serta mengabulkan doa merupakan salah satu sifat Allah SWT yang menjadikannya layak atau wajib untuk kita sembah dan kita ibadahi.

Namun apakah setiap orang yang memanjatkan doa pasti akan dikabulkan, adakah syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang hamba agar doanya dikabulkan oleh Allah SWT.

Rasulullah SAW bercerita dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah RA,

ثم ذكر الرجل يطيل السفر أشعث أغبر يمد يديه إلى السماء يا رب يا رب ومطعمه حرام ومشربه حرام وملبسه حرام وغذي بالحرام فأن يستجاب له

“Ada seseorang yang melakukan perjalanan jauh dalam keadaan kumal dan berdebu. Lalu dia mengangkat tangannya ke langit seraya berkata Ya Robbi Ya Robbi, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dia mencukupi kebutuhannya dengan harta haram, maka bagaimana doanya bisa dikabulkan?” (HR Muslim)

Dr Abdullah Azzam dalam kitabnya Tarbiyah Jihadiyah memberikan penjelasan yang cukup bagus mengenai hadits ini.

Menurut beliau setidaknya ada empat hal yang bisa dijadikan ibroh atau pelajaran dari hadits tersebut.

Yang pertama, diceritakan bahwa yang berdoa di sini adalah seorang musafir yang melakukan perjalanan jauh.

Seseorang yang melakukan perjalanan jauh akan terpisah dari orang-orang yang dicintai dan mencintainya, baik keluarga, saudara, ataupun teman-teman dekatnya. Dalam situasi seperti itu manusia akan cenderung merasa kesepian dan sedih. Dan ketika dalam kesedihannya itu, dia justru memilih untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT, tentu Allah SWT akan mengabulkannya.

Bahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad Rasulullah SAW menjamin terkabulnya doa seseorang yang melakukan perjalanan jauh.

ثلاث مستجاب لهم دعوتهم : المسافر والوالد والمظلوم

“Tiga golongan yang doanya dikabulkan : Pertama, seorang musafir yang melakukan perjalanan, Kedua, orang tua yang mendoakan anaknya, ketiga, orang yang terdholimi (HR Ahmad)”

Lalu yang kedua, di sini disebutkan tentang keadaan musafir tersebut, أشعث kumal أغبر berdebu.

Kedua hal ini merupakan ‘ibarah atau gambaran akan sikap rendah hati seseorang. Allah SWT hanya akan menerima doa dari orang-orang yang merendahkan diri di hadapanNya. Dan Allah SWT sungguh tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan dirinya.

Sebagaimana nasehat seorang Luqman kepada anaknya, yang di mana nasehat-nasehat tersebut diabadikan di dalam Al Qur’an yaitu dalam surat Luqman, dan salah satu nasehatnya adalah surat Luqman ayat yang ke 18,

إن الله لا يحب كل مختال فخور

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan dirinya” (QS Luqman:18)

Lalu yang ketiga, musafir tersebut menengadahkan kedua tangannya ke langit. Menengadahkan kedua tangan ke arah langit ketika berdoa merupakan salah satu faktor yang akan membantu agar doa kita diterima.

Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah SAW besabda:

إن الله تعالى حَيِيٌّ  كريم يَسْتَحْيِيْ إذا رفع الرجل إليه يديه أن يَرُدَّهُمَا صفرا خائبتين

“Sesungguhnya Allah SWT Maha Hidup lagi Maha Mulia, dan dia akan merasa malu ketika ada seorang hambaNya yang mengangkat kedua tangannya kepadaNya, dia akan merasa malu jika mengembalikan kedua tangan tersebut dalam keadaan hampa dan sia-sia” (HR Ahmad)

Selanjutnya yang keempat, musafir tersebut ketika berdoa mengucapkan kalimat, “ya robbi ya robbi” Wahai Tuhanku Wahai Tuhanku. Hal ini menunjukkan penghormatan kepada Allah SWT, lafadz ini juga berarti sebuah ungkapan permohonan akan rahmat serta belas kasihan dari Allah SWT.

Faktor Terpenting Agar Doa Terkabul

Namun ternyata keempat hal tadi, yaitu statusnya sebagai seorang musafir, lalu dia merendahkan dirinya kepada Allah, mengangkat kedua tangannya ke arah langit dan memuji-muji Allah SWT tidak serta merta menjadikan doanya dikabulkan oleh Allah SWT.

Di mana dalam kalimat selanjutnya disebutkan “tetapi makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dia memenuhi kebutuhannya dengan harta haram, bagaimana doanya bisa terkabul?”

Setidaknya ada dua hal yang bisa kita simpulkan dari rangkaian kalimat penutup hadits tersebut, yang pertama adalah tentang pentingnya mengambil, memakan ataupun menggunakan harta yang halal, dan yang kedua adalah bahwa harta yang halal menjadi faktor terpenting dalam menentukan terkabul atau tidaknya sebuah doa.

Rasulullah SAW sangat mewanti-wanti umatnya dalam persoalan kehalalan harta ini. Beliau memerintahkan kita agar sangat ketat dalam mengaudit diri kita sendiri, kita tidak boleh  membiarkan secuil pun makanan haram masuk ke dalam mulut kita.

Suatu ketika sahabat Saad bin Abi Waqqash memohon kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, mohonkanlah kepada Allah agar doaku selalu dikabulkan” Maka Rasulullah pun menjawab, “Wahai Saad, perbaikilah makananmu, niscaya doamu dikabulkan. Sesungguhnya ada seseorang yang memasukkan sesuap makanan haram ke dalam mulutnya. Maka Allah tidak menerima shalatnya selama empat puluh hari.”(HR Ath Thabrani)

Dan di dalam hadits yang lainnya Rasulullah juga mengatakan, “Sesungguhnya ada seseorang yang membeli baju dengan harga sepuluh dirham, namun dari sepuluh dirham itu ada satu dirham yang haram, Maka Allah tidak bisa menerima amalannya selama baju itu melekat padanya” (HR Ahmad)

Maka sudah semestinya seorang muslim menghabiskan menit-menit hidupnya untuk bermuhasabah, mengintrospeksi dirinya, sudah seratus persen halalkah harta yang dimilikinya, sudah seratus persen halalkah sarapan pagi yang disantap keluarganya, sudah seratus persen halalkah jilbab halus yang dikenakan istrinya, sudah seratus persen halalkah uang jajan anaknya.

Karena jika ada sekeping hartanya yang bersumber dari sesuatu yang haram, niscaya  harta itu tidak akan bermanfaat sedikit pun baginya dan hanya akan menjauhkan dirinya dari keridhaan Allah SWT, meskipun dia mentasarufkannya dalam amal-amal shalih semisal perbaikan jalan, pembangunan masjid, ataupun berkorban 7 ekor sapi dan sepuluh ekor unta.

Sebagaimana yang disampaikan oleh sahabat Ibnu Abbas RA, “Sesungguhnya keburukan tidak dapat menghapus keburukan lainnya”

Kebaktian Sang Anak dan Kedurhakaan Sang Ayah

Keluarga Dakwah – Kebaktian Sang Anak dan Kedurhakaan Sang Ayah

Memiliki seorang anak yang sholih dan berbakti merupakan idaman setiap orang tua. Namun kadang kala orang tua tidak mempersiapkan diri menerima kesholihan anaknya. Seringnya harapan dan cita-cita orang tua hanya sekedar angan-angan belaka. Karena jalan dan metode yang ditempuh dalam mendidik anak tidak mengarah kepada kesholihan namun menuju kepada kedurhakaan.

Tanpa disadari terkadang orang tua menjadi penyebab utama kesesatan anaknya. Boleh jadi pula penghalang terbesar untuk hadirnya hidayah adalah mereka. Tidak mengherankan jika Nabi Muhammad -shollallohu ‘alaihi wa sallam- memberikan teguran melalui sabdanya:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ » -رواه البخاري ومسلم-

Artinya: Dari Abu Huroiroh bahwa Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- pernah bersabda: “Tiada seorang anak terlahir melainkan berada di atas fitroh (Islam), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan (anak tersebut) seorang yahudi, atau Nasrani atau majusi. Sebagaimana terlahirnya binatang ternak  yang sehat dan sempurna badannya, apakah kalian merasa pada dirinya terdapat cacat (yang terpotong hidung atau telinganya) ?! [HR. Bukhori dan Muslim].

Di sisi lain terdapat persepsi  tentang anak sholih di benak orang tua yang terbatas hanya anak yang taat dan ikut dengan segala perintah orang tua. Sementara seorang anak dikatakan sholih karena menempatkan ketaatan kepada Allah dan Rosul-Nya di atas segalanya.

Tidak mengherankan jika pada suatu kondisi saat orang tua menyuruh anaknya melakukan perbuatan yang mengundang kemurkaan Allah dan Rosul-Nya lalu sang anak menolaknya maka terjadilah perdebatan dan bahkan pertengkaran. Acap kali sang anak divonis durhaka dalam masalah ini. Namun tanpa disadari, orang tua lah yang sedang berlaku durhaka.

Kisah kebaktian sang anak dan kedurhakaan sang ayah dihadirkan dalam Al Quran agar orang beriman mengambil pelajaran berharga darinya. Disebutkanlah dialog antara Nabi Ibrohim –‘alaihis salam- dan ayahnya yang bernama Azar.

“Dan ceritakanlah (Hai Muhammad) kisah Ibrohim di dalam al Kitab (Al Qurân), sesungguhnya dia seorang yang sangat mencintai kebenaran dan seorang nabi (41) ingatlah ketika dia (Ibrohim) berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolongmu sedikitpun?!(42) Wahai ayahku! Sungguh telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak sampai kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus(43) Wahai ayahku! Janganlah engkau menyembah setan. Sungguh setan itu durhaka kepada Ar Rohman (Yang Maha Pengasih) (44) Wahai ayahku! Aku sungguh khawatir engkau akan ditimpa azab dari Yang Maha Pengasih , sehingga engkau menjadi teman bagi setan (45) Dia (ayahnya) berkata: “Bencikah engkau kepada tuhan-tuhanku wahai Ibrohim?! Jika engkau tidak berhenti, pastilah engkau akan kurajam, maka tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama” (46) Dia (Ibrohim) berkata: “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Robbku, sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku” (47) Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang engkau sembah selain Allah dan aku akan berdoa kepada Robb-ku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Robb-ku (48). [QS. Maryam: 41 – 48]

Tergambar bagaimana kebaktian Nabi Ibrohim dan kasih sayang beliau kepada kedua orang tuanya. Cinta kasih seorang anak yang tidak rela kalau ayahnya menjadi bagian dari pengikut setan yang berujung pada penderitaan tiada berakhir di neraka nanti. Namun tak selamanya ungkapan cinta kasih seorang anak disambut baik oleh ayahandanya.

Kemudian tahukah kita apa yang terjadi selanjutnya antara Nabi Ibrohim –‘alaihis salam- dengan ayahnya di hari kiamat? Nabi Muhammad -shollallohu ‘alaihi wa sallam- menuturkan kisah keduanya dalam sebuah riwayat hadits qudsi:

يَلْقَى إِبْرَاهِيمُ أَبَاهُ آزَرَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَى وَجْهِ آزَرَ قَتَرَةٌ وَغَبَرَةٌ فَيَقُولُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ أَلَمْ أَقُلْ لَكَ لَا تَعْصِنِي فَيَقُولُ أَبُوهُ فَالْيَوْمَ لَا أَعْصِيكَ فَيَقُولُ إِبْرَاهِيمُ يَا رَبِّ إِنَّكَ وَعَدْتَنِي أَنْ لَا تُخْزِيَنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ فَأَيُّ خِزْيٍ أَخْزَى مِنْ أَبِي الْأَبْعَدِ فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى إِنِّي حَرَّمْتُ الْجَنَّةَ عَلَى الْكَافِرِينَ ثُمَّ يُقَالُ يَا إِبْرَاهِيمُ مَا تَحْتَ رِجْلَيْكَ فَيَنْظُرُ فَإِذَا هُوَ بِذِيخٍ مُلْتَطِخٍ فَيُؤْخَذُ بِقَوَائِمِهِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ

-رواه البخاري-

Artinya: “Ibrohim bertemu ayahnya Azar di hari kiamat sementara di atas wajah ayahnya Azar terdapat asap dan debu, lalu berkatalah Ibrohim kepadanya: “Bukankah aku telah berkata kepadamu janganlah mendurhakaiku?! Lalu ayahnya menjawab: “Hari ini aku tidak akan mendurhakaimu”. Lalu Ibrohim berkata: Wahai Robb-ku, sesungguhnya Engkau menjanjikan untukku bahwa Engkau tidak akan menghinakanku di hari semua (manusia) dibangkitkan, maka kehinaan apa yang lebih menghinakan dari ayahku yang jauh (dariku)?! Lalu Allah Yang Maha Tinggi berfirman: “Sesungguhnya Aku telah mengharamkan surga bagi orang-orang kafir”. Kemudian dipanggillah; “Wahai Ibrohim! Apa yang ada di bawah kedua kakimu? Lalu ia melihat seekor hyena yang telah berlumuran tanah (ayahnya dirubah bentuknya menjadi seekor binatang hyena.pent). kemudian dipeganglah kaki-kakinya dan dilemparkan ke dalam neraka”. [HR. Bukhori]

            Perhatikan bagaimana Nabi Ibrohim memberikan kebaktiannya untuk ayahnya hingga di hari kiamat. Namun keputusan Allah ta’ala tetaplah adil dan bijaksana. Bagi orang mukmin surgalah tempat kembalinya. Sementara bagi orang kafir nerakalah tempat kembalinya. Demikianlah kondisi hari yang tidak lagi bermanfaat harta dan keturunan melainkan orang-orang yang membawa iman.

            Semoga Allah Yang Maha Pengasih menjadikan kita semua keluarga yang sholih, dari orang tua hingga anak-anak keturunannya, yaitu keluarga yang siap mendarmabaktikan hidupnya untuk Allah ta’ala.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه ومن والاه،

والله أعلم بالصواب.

5 shofar 1439 H

Abu Athif –غفر الله له ولوالديه-

Keutamaan Shalat Lima Waktu

SHALAT LIMA WAKTU

Keluarga Dakwah – Keutamaan Shalat Lima Waktu

Allah ta’ala berfirman

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ ۚ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ

Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. (QS. Hud: 114)

Laksanakanlah shalat secara sempurna pada permulaan siang dan sore, serta pada waktu malam. Sesungguhnya, perbuatan baik itu menghapus dosa yang telah lalu dan menghilangkan bekas-bekasnya.

Perintah mendirikan shalat dan penjelasan bahwa kebaikan itu menghapus keburukan merupakan nasihat bagi orang yang sadar dan ingat.

Hadits

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apa pendapat kalian jika ada sungai di depan pintu (rumah) seseorang diantara kalian. Ia mandi di situ lima kali setiap hari. Apakah tersisa kotorannya sedikit pun?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau bersabda, “Itulah perumpamaan shalat lima waktu. Dengannya, Allah akan menghapus banyak kesalahan.” (HR. Bukhari no 525 & Muslim no 667)

Hadits

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Shalat lima waktu, Jum’at ke Jum’at, Ramadhan ke Ramadhan; adalah penghapus dosa antara keduanya, jika dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim 233)

KEUTAMAAN SHALAT LIMA WAKTU

Menghapuskan banyak dosa

SERI KAJIAN SHAHIH FADHILAH AMAL #43

(SHAHIH FADHILAH AMAL, Syaikh Ali bin Nayif Asy-Syuhud. Halaman 133 – 134. Penerbit Aqwam)

Keutamaan Doa Diantara Azan dan Iqomah

Keutamaan Doa Diantara Azan dan Iqomah

Keluarga Dakwah – Keutamaan Doa Diantara Azan dan Iqomah

Hadits

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Doa diantara azan dan iqomah tidak akan ditolak.” (HR. Abu Daud no 521 dan At-Tarmidzi no 212)

Hadits

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Doa diantara azan dan iqomah tidak akan ditolak.” Para sahabat lalu bertanya, “Lalu apa yang harus kami ucapkan, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Mintalah kesehatan di dunia dan di akhirat.” (Sunan At-Tirmidzi no 3943)

KEUTAMAAN BERDOA DIANTARA AZAN DAN IQOMAH

Doanya mustajab (tidak akan ditolak)

SERI KAJIAN SHAHIH FADHILAH AMAL # 41

(SHAHIH FADHILAH AMAL, Syaikh Ali bin Nayif Asy-Syuhud. Halaman 131. Penerbit Aqwam)

Keutamaan Shalat

Keutamaan Shalat

Keluarga Dakwah – Keutamaan Shalat

Allah ta’ala berfirman

وَاللَّهُ خَلَقَ كُلَّ دَابَّةٍ مِنْ مَاءٍ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَىٰ بَطْنِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَىٰ رِجْلَيْنِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَىٰ أَرْبَعٍ ۚ يَخْلُقُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Surat Al-‘Ankabut :45)

Bacalah dan amalkanlah Al-Qur’an yang diturunkan kepadamu. Laksanakanlah shalat sesuai dengan aturan-aturannya. Sesungguhnya menjaga shalat dapat dapat mencegah pelakunnya dari perbuatan maksiat dan mungka. Hal itu karena orang yang mendirikan shalat dengan menyempurnakan rukun dan syarat-syaratnya maka hatinya akan tenang, imannya bertambah, cintanya kepada kebaikan menguat dan cintanya kepada kajahatan berkurang bahkan menghilang.

Zikir kepada Allah dalam shalat lebih agung dan utama daripada apapun. Allah Maha Mengetahui kebaikan dan kejahatan yang kalian perbuat. Maka dari itu, Allah akan memberika balasan atas perbuatan kalian dengan balasan yang paling sempurna. Dia pasti akan mendapatinya.

Allah ta’ala berfirman

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ
الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya. (QS. Al-Mu’minun: 1-2)

Sungguh beruntung orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya serta melaksanakan perintah-Nya. Diantara sifatnya adalah mereka khusuk dalam shalat, hatinya fokus dan anggota tubuhnya tenang.

Hadits

Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu berkata, Aku mendengar Rasulullahu shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya, islam itu dibangun atas lima perkara, yaitu (1) shahadat bahwa tidak ada ilah (yang berhak diibadahi)kecuali Allah, (2) mendirikan shalat, (3) membayar zakat, (4) puasa ramadhan, (5) haji ke Baitullah.” (HR. Bukhari no 8 dan Muslim no15, 22)

KEUTAMAAN SHALAT

Mencegah perbuatan keji dan mungkar

Merupakan salah satu pondasi islam

SERI KAJIAN SHAHIH FADHILAH AMAL # 42

(SHAHIH FADHILAH AMAL, Syaikh Ali bin Nayif Asy-Syuhud. Halaman 132 – 133. Penerbit Aqwam)

Keutamaan Menjawab Azan

Keutamaan Menjawab Azan

Keluarga Dakwah – Keutamaan Menjawab Azan

📖 Hadits

Abdulah bin Amr bin Ash ra, meriwayatkan bahwa ia mendengar Nabi bersabda, “Apabila kalian mendengar muazin mengumandangkan azan maka ucapkanlah seperti yang ia ucapkan kemudian bershalawatlah kepadaku. Sesungguhnya, siapa yang bershalawat kepadaku suatu kali maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali. Kemudian, mintalah untukku al-wasilah. Ia adalah sepuluh kali. Kemudian, mintalah untukku al-wasilah. Ia adalah sebuah kedudukan di surga yang tidak patut (diduduki), kecuali bagi hamba di antara para hamba Allah. Dan aku berharap, akulah hamba tersebut. Barang siapa memintaku aku al-wasiila maka syafaatku halal baginya. (HR. Muslim no 384)

📖 Hadits

Jabir bin Abdullah ra, meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa siapa setelah mendengar seruan azan membaca doa (yang artinya): ‘Ya Allah, Rabb seruan yang sempurna ini dan shalat yang akan didirikan, karuniakanlah kepada Muhammad wasilah dan keutamaan, serta tempatkanlah beliau di tempat yang terpuji seperti yang Engkau janjikan kepadanya,’ maka dihalalkan baginya syafaatku pada hari kiamat kelak.” (HR. Bukhari no 614)

📖 Hadits

Saad bin Abu Waqash ra, meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Barang siapa ketika mendengar muazin mengucapkan, ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah(yang berhak diibadahi), kecuali Allah semata; tiada sekutu bagi-Nya. Dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Aku ridha Allah sebagai Rabb, Muhammad sebagai Rasul, dan Islam sebagai agama,’ maka dosa-dosanya diampuni.” (HR. Muslim no 386)

🌾Keutamaan Menjawab Azan🌾

💧Mendapat syafaat dari Rasulullah

SERI KAJIAN SHAHIH FADHILAH AMAL#40

(SHAHIH FADHILLAH AMAL, Syaikh Ali bin Nayif Asy-Syuhud. Halaman 129 – 130)

Keutamaan Azan

keutamaan azan

Keluarga Dakwah – Keutamaan Azan

📖 Hadist

Adbullah bin Abdurrahman meriwayatkan bahwa Abu Said Al-Kudri radhiallahu ‘anhu berkata kepadanya, “Aku melihatmu suka kambing dan padang pasir. Jika kamu sedeng mengembalakan kambing atau berada di padang pasir lalu mengumandangkan azan shalat maka keraskanlah suara azanmu. Sesungguhnya tidak ada jin, manusia dan apapun yang mendengar suaramu melainkan akan menjadi saksi pada hari kiamat (atas azan yang kamu kumandangkan).” Abu said berkata, “Aku mendengar itu dari Rasulullah.” HR Bukhari no 609

📖 Hadist

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Andaikan manusia mengetahui pahala dalam azan dan shaf pertama, kemudian mereka tidak bisa mendapatkan hal itu kecuali harus mengundinya, Niscaya mereka akan mengundinya.” HR. Bukhari no 615 dan Muslim no 437

📖 Hadist

Muawiyah bin Abu Sufyan radhiallahu ‘anhu berkata, aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Para Muadzin adalah orang yang paling panjang lehernya pada hari kiamat.” HR. Muslim no 387

🌾KEUTAMAAN AZAN🌾

💧Seluruh makhluk menjadi saksi bagi muadzin pada hari kiamat

💧Para muadzin makhluk yang paling panjang lehernya pada hari kiamat

SERI KAJIAN SHAHIH FADHILAH AMAL # 39

(SHAHIH FADHILAH AMAL, Syaikh Ali bin Nayif Asy-Syuhud. Halaman 128 – 129. Penerbit Aqwam)

Keutamaan Siwak

Keutamaan bersiwak

Keluarga Dakwah – Keutamaan Siwak

📖 Hadist

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Andai aku tidak (khawatir) memberatkan umatku atau manusia, niscaya aku perintahkan mereka bersiwak setiap kali hendak shalat.”
Shahih Ibnu Hiban XV/562, (7078)

📖 Hadist

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Andai aku tidak (khawatir) memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka berwudhu setiap kali hendak shalat atau bersiwak setiap kali berwudhu dan mengakhirkan shalat Isya sampai sepertiga malam.” Musnad Ahmad III/86, (7513,7504) Hadis hasan.

📖 Hadist

Abdurrahman bin Atiq berkata,: Aku mendengar ayahku berkata,Aku mendengar Aisyah radhiallahu ‘anha menceritakan, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siwak itu membersihkan mulut dan menyebabkan keridhaan Allah.” Shahih Ibnu Hiban III/1067.

🌾KEUTAMAAN BERSIWAK🌾

💧Sunnah Rasulullah

💧Membersihkan mulut dan menyebabkan keridhaan Allah.

SERI KAJIAN SHAHIH FADHILAH AMAL # 38

(SHAHIH FADHILAH AMAL, Syaikh Ali bin Nayif Asy-Syuhud. Halaman 126 – 127. Penerbit AAqwam)

Keutamaan Shalat Setelah Berwudhu

Keutamaan Shalat Setelah Berwudhu

Keluarga Dakwah – Keutamaan Shalat Setelah Berwudhu

📖 Hadist

Uqbah bin Amir radhiallahu ‘anhu berkata, “Kami pernah menjaga unta-unta kami secara bergiliran, lalu tibalah giliranku. Lantas, aku membawa unta-unta itu pulang pada sore hari. Selanjutnya, aku datang ke majelis Rasulullah. Aku melihat Rasulullah berdiri sembari berkhutbah di hadapan manusia. Aku mendapati beliau bersabda, Tidaklah seseorang muslim berwudhu secara sempurnakemudian berdiri menunaikan shalat dua rakakat dengan hati dan wajahnya (tenang dan khusyuk), melainkan wajib baginya syurga.” (HR. Muslim no 234)

📖 Hadist

Humran, hamba sahaya ussman radhiallahu ‘anhu, melihat Usman bin Affan meminta bejana lalu menuangkan airnya pada kedua telapak tangannya tiga kali berturut-turut lalu membasuhnya. Ia kemudian memasukkah tangan kanannya kedalam bejana. Ia berkumur-kumur dan memasukkan air kedalam hidung lalu mengeluarkannya. Ia kemudian membasuh wajahnya tiga kali dan membasuh tangannya sampai siku tiga kali berturut-turut. Ia kemudian mengusap kepalanya lalu membasuh kakinya tida kali berturut-turut sampai mata kaki. Humran berkata bahwa Rasulullah shalallahu “alaihi wa sallah bersabda, “Barang siapa berwudh seperti wudhuku ini kemudian shalat dua rakaat, dalam shalat itu ia tidak berbicara kepada dirinya(khusyuk), maka diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.” (HR. Bukhari no 159 dan Muslim no 226)

📖 Hadist

Usman radhiallahu ‘anhu berkata, Aku mendengar Rasulullah shalallahu “alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang muslim berwudhu secara sempurna lalu mendirikan shalat, Melainkan Allah akan mengampuni dosanya antara (shalat( itu dan shalat berikutnya.” (HR. Bukhari no 160 dan Muslim no 227)

📖 Hadist

Buraudah radhiallahu “anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah mendengar gemerisik di depan pintunya. Beliau lalu bertanya, “Siapa ini?” Mereka menjawab, “Bilal” Beliau lalu memberitahukan hal ini kepada Bilal dan bertanya, “Dengan apa engkau mendahuluiku ke surga?” Bilal menjaawab, Wahai Rasulullah, setiap berhadas, aku selalu berwudhu. setiap kali telah berwudhu, aku melihat bahwa Allah memiliki hak atas diriku shalat dua rakaat.” Beliau bersabda, “Oh… Dengan itu.” HR. Ibnu Hiban XV/562 (7087)

🌾Keutamaan Shalat Setelah Berwudhu🌾

💧Surga wajib baginya

💧Diampuni dosanya yang telah berlalu

💧Diampuni dosanya antara shalat itu dan shalat berikutnya

💧Dengannya, Bilal menjadi mendahului Rasulullah di surga

SERI KAJIAN SHAHIH FADHILAH AMAL # 36

(SHAHIH FADHILAH AMAL, Syaikh Ali bin Nayif Asy-Syuhud. Halaman 124 – 126. Penerbit Aqwam)

JALINAN KELUARGA DAKWAH