Berinfak dengan Harta Tercinta

Allah ta’ala berfirman dalam al-qur’an surat Ali imran ayat 92

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya. (Ali Imran: 92).

Menginfakkan harta yang sangat dicintai merupkanan syarat meraih kebajikan yang hakiki. Iman perlu dibuktikan dengan pengorbanan. Tidak ada bukti keimanan tanpa adanya pengorbanan. Semakin besar ia berkorban, entah dengan harta ataupun jiwa, semakin kuat pula keimananya. Sebaliknya, semakin pelit dan kikirnya seseorang, akan menunjukkan keimannya yang tipis terhadap akhirat. Bahkan Rasulullah SAW bersabda;

لاَ يَجْتَمِعُ الشُّحُّ وَ اْلإِيْمَانُ فِي قَلْبِ عَبْدٍ أَبَدًا

“Sifat kikir dan iman tidak akan berkumpul dalam hati seseorang selama-lamanya.” (Al-Musnad, karya Ahmad 14/202, no. 8512 dan Shahih Ibni Hiban 8/43, no. 3251. Seorang muhaqqiq mengatakan, “Hadits shahih lighairihi.”).

Asbabun Nuzul

Sebab turunnya ayat di atas terekam dalam hadist yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu anhu beliau berkata;

“Abu Thalhah adalah orang Anshar kaya yang paling banyak memiliki kebun kurma di Madinah. Dia sangat mencintai Bairuha (nama kebun) yang berhadapan dengan Masjid. Rasul juga suka masuk ke sana dan minum air segar dari mata airnya. Tatkala turun ayat ِ لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَAbu Thalhah berkata: Wahai Rasul, Allah telah menegaskan bahwa tidak akan mendapatkan kebaikan kecuali menginfakkan apa yang dicintai; harta yang amat saya cintai adalah kebun Bayruha, maka dengan ini saya sedekahkan karena Allah. Saya mengharapkan kebaikannya di sisi Allah SWT. Gunakanlah wahai Rasul sesuai kehendakmu. Rasul SAW bersabda: Bakh (kata-kata kagum), ini adalah harta yang sangat baik yang sangat bernilai! Saya mendengar apa yang kamu ucapkan! Saya berpendapat alangkah baiknya engkau berikan ke kerabatmu. Dia mengatakan aku lakukan wahai Rasul! Kemudian Abu Thalhah membagikannya ke kaum kerabat dan anak pamannya.” (Hr. al-Bukhari dan Muslim).

Sahabat yang lain adalah Zaid bin Haritsah radhiyallahu anhu, harta yang paling ia cintai adalah seekor kuda yang bernama ‘Sabl’. Ketika ayat 92 dari surah Ali Imran ini turun, ia menyedekahkannya dengan memberikannya kepada Rasulullah. Ketika kuda tersebut digiring oleh anaknya untuk diberikan kepada Rasulullah, baginda melihat wajah Zaid bin Haritsah berubah, namun Rasulullah segera bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menerimanya darimu (wahai Zaid)!” (Diriwaytkan oleh Ibnu Abi Hatim; lihat Tafsir Al Qurthuby dan Al Alusy)

Semarak ramadah

Tafsir ayat

Banyak ahli tafsir yang menerangkan bahwa al-birr yang dimaksud oleh ayat ini adalah surga. Penafsiran ini diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Atha’, Mujahid, Amr bin Maimun dan as-Suddi (Tafsir ath-Thabari dan al-Qurthubi).

Syaikh Abdurrahman as Sa’di berkata, “Ayat ini adalah anjuran dari Allah Ta’ala kepada para hamba-Nya untuk berinfak di berbagai jalan kebaikan. Allah Taala menyatakan ‘kalian tidak akan meraih al-birr’, yaitu setiap kebaikan berupa berbagai ketaatan dan ganjaran yang mengantarkan pelakunya ke surga.”

“Hingga kalian menginfakkan apa yang kalian cintai,” yaitu harta-harta kalian yang berharga, yang disenangi oleh jiwa-jiwa kalian. Jika kalian lebih mendahulukan kecintaan kepada Allah Ta’ala daripada kecintaan kepada harta, lalu kalian mengeluarkannya dengan tujuan menggapai keridhaan-Nya, hal itu menunjukkan keimanan yang jujur, ketaatan hati dan juga kebenaran takwakalian. Termasuk dalam hal ini adalah menginfakkan harta yang bernilai, berinfak dalam keadaan orang yang berinfak tersebut membutuhkan apa yang diinfakkannya dan berinfak dalam keadaan sehat. Ayat ini menunjukkan bahwa seorang hamba dinilai ketaatannya berdasarkan harta kesenangannya yang dia infakkan dan semakin berkurang pula ketaatannya jika infaknya semakin berkurang. ” (Taisir al-Karim ar-Rahman)

Kemudian dipenghujung ayat diterangkan bahwa apapun yang diinfakkan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. Maksudnya; “Allah Ta’ala mengabarkan bahwa apa pun yang diinfakkan atau disedekahkan, atau nazar orang yang bernazar, sesungguhnya Allah mengetahui hal itu. Kandungan makna ilmu Allah Ta’ala menunjukkan bahwa Dia membalasnya dan tidak menyia-nyiakan sedikit pun apa yang ada di sisi-Nya. Dia mengetahui apa yang dilakukan seorang hamba berupa niat yang baik atau buruk.” (Taisir al-Karim ar-Rahman)

 Mari Berpartisipasi dalam program Semarak Ramadhan 1438 H bersama JKD (Jalinan Keluaga Dakwah)

Penutup

Manusia diciptakan dengan kecenderungan mencintai harta benda. Semua manusia memiliki kecenderungan ini. Tidak ada manusia yang tidak mencintai hartanya. Orang-orang beriman yang rajin bersedekah pun, bukan orang-orang yang tidak mencintai hartanya. Tetapi mereka mampu menekan kecintaan itu sehingga tidak melebihi cintanya pada Allah, Rasul-Nya dan jihad fi sabilillah.

Lihatlah keadaan Abu Thalhah saat mensedekahkan hartanya. Ia menyadari bahwa harta yang akan ia sedekahkan tersebut adalah harta yang sebetulnya sangat ia cintai. Akan tetapi, karena seruan Allah lebih ingin ia dengarkan dari pada seruan perasaan yang ada dalam hatinya, ia rela berbuat kemuliaan tersebut.

Peluang untuk berinfak hari ini terbuka lebar. Mulai dari medan-medan jihad di Suriah, Afganistan, Moro, Tailand dan yang lainnya. Hingga program dakwah di pelosok Indonesia, semuanya sangat membutuhkan harta-harta yang paling kita cintai. Jangan sia-siakan kesempatan ini sebelum orang-orang kafir merampas harta kita untuk menguatkan mereka. Dan sebelum nyawa melayang tanpa sempat bersedekah. karena kesempatan itu tidak datang terus menerus. Ia akan hilang bersama dengan penyesalan pada diri kita. Padahal penyesalan itu tidak lagi berguna. (Amru/majalah annajah rubrik tafsir edisi 98).