Muslim Sejati, Generasi Khilafah

Keluarga Dakwah – Muslim Sejati, Generasi Khilafah

Sebuah pelajaran dan skenario Ilahi terpenting dari diciptakannya Nabi Adam –alaihis Salaam- dan diturunkannya di atas muka bumi ini adalah untuk menjadi kholifah. Secara gamblang dan jelas disebutkannya tujuan tersebut dalam firman Allah ta’ala:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ (30)

Artinya: “Dan ingatlah ketika Robbmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi. Mereka (malaikat) berkata: “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di muka bumi, sedangkan kami senantiasa bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia (Allah) berfirman: “Sesungguhnya Aku Mengetahui apa yang tidak kalian ketahui”. [QS. Al Baqoroh: 30]

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa kata Kholifah secara bahasa bermakna yang datang sesudahnya, atau juga berarti orang yang diberi tugas sebagai wakil dan pengganti. Bentuk mashdar dari kata kholifah adalah khilafah. Berkaitan dengan ayat di atas maka maksud dari kata kholifah secara khusus adalah Nabi Adam dan tugasnya adalah melaksanakan segala perintah dan keinginan Allah dalam rangka untuk memakmurkan bumi. [At Tahrir wa At Tanwir; 1/ 399]

 Imam Ibnu Katsir –rohimahulloh- lebih menguatkan pendapat ulama yang menjelaskan bahwa yang dimaksud kholifah dalam ayat tersebut bukan secara khusus Nabi Adam semata melainkan adalah jenis manusia yang menjadi keturunannya. Selanjutnya beliau menukilkan pendapat Imam al Thobari –rohimahulloh- yang menjelaskan fungsional kholifah yaitu orang yang memutuskan perkara di tengah manusia, menghilangkan kedzoliman dan mencegah perkara haram dan dosa [Tafsir Ibnu Katsir; 1/ 216]. Melalui definisi dan penjelasan ini bisa kita fahami bahwa orang yang mau melaksanakan perintah dan keinginan Allah dalam rangka memakmurkan bumi dengan menghilangkan kedzoliman, memutuskan perkara di tengah manusia dan mencegah perkara haram dan dosa, bisa dipastikan orang yang dimaksud adalah orang mukmin. Karena hanya orang mukmin saja yang siap sedia melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Dalam teori tatanan negara, kholifah memiliki definisi sebagai pimpinan tertinggi kaum mukminin yang mengatur seluruh umat berdasarkan pandangan syariat dalam mewujudkan maslahat-maslahat ukhrowi dan duniawi yang akan kembali kepada ukhrowi [Konsep Kepemimpinan dalam Islam; hal 39]. Ditinjau dari aspek sejarah peradaban manusia, keberadaan khilafah (kepemimpinan umat) menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Fakta dan data penting dari perkara ini adalah pengutusan para nabi dan rosul di tengah manusia yang memiliki tujuan khusus di antaranya adalah mengemban tugas khilafah di atas muka bumi ini.

Nabi Muhammad -shollallohu ‘alaihi wa sallam- pernah bersabda menjelaskan tentang kepemimpinan para nabi dan rosul, selanjutnya beliau memberikan isyarat akan munculnya para kholifah di kemudian hari sebagai konsokwensi berakhirnya masa kenabian sepeninggal beliau:

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ فُوا بِبَيْعَةِ الْأَوَّلِ فَالْأَوَّلِ أَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ

Artinya: “Dahulu Bani Israil senantiasa dipimpin oleh para nabi, setiap meninggalnya seorang nabi maka akan digantikan dengan nabi berikutnya, dan sesungguhnya tidak ada nabi sepeninggalku. Dan akan muncul sesudahku para kholifah lalu jumlah mereka banyak. Mereka (para sahabat) bertanya: “Lalu apa kiranya yang engkau perintahkan kepada kami? Beliau menjawab: “Tepatilah baiat yang pertama, berikanlah kepada mereka hak-haknya, sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban dari apa yang mereka pimpin”.[HR. Bukhori].

Berkaitan dengan informasi futuristik tentang khilafah, Nabi Muhammad -shollallohu ‘alaihi wa sallam- juga menyebutkan dalam sebuah haditsnya bahwa kaum muslimin akan menjumpai lima fase kepemimpinan. Lima fase kepemimpinan itu adalah:

  1. Fase kepemimpinan Nabi (sudah berlangsung)
  2. Fase khilafah ‘ala minhajin nubuwah -khilafah atas pedoman Nabi- (sudah berlangsung hingga tahun ke 41 H)
  3. Fase kepemimpinan para raja (sudah berlangsung hingga runtuhnya kekholifahan terakhir yaitu Ddinasti Turki Utsmani di tahun 1924 M)
  4. Fase kepemimpinan diktator dan tiran (sedang berlangsung)
  5. Fase khilafah ‘ala minhajin nubuwah -khilafah atas pedoman Nabi- (akan muncul di kemudian hari). [HR. Ahmad]

Kabar dari Nabi ini mengisyaratkan bahwa kelak di kemudian hari akan muncul kembali khilafah ‘ala minhajin nubuwah. Jika diperhatikan dalam hadits tersebut akan kita dapati bahwa penyebutan fase kelima sama persis dengan fase kedua. Hal ini bermakna kepemimpinan kaum muslimin di akhir zaman sebelum kiamat tiba adalah seperti kepemimpinan para sahabat Nabi yang memenuhi bumi ini dengan keadilan setelah sebelumnya kedzoliman merebak di mana-mana.

Kemudian yang menjadi pertanyaan besarnya adalah “siapakah yang berani memunculkan kembali khilafah ‘ala minhajin nubuwwah di era penuh represif dari kaum kuffar?”. Jawabannya adalah kaum muslimin yang senantiasa berupaya meneladani kesholihan generasi para sahabat. Karena khilafah ‘ala minhajin nubuwah di fase kedua terjadinya di zaman para sahabat Nabi dan fase kelima disebutkan sama persis dengan fase kedua. Hal ini mengindikasikan bahwa generasi yang memperjuangkan tegaknya syariat Allah dan khilafah Islamiyah senantiasa meneladani generasi sahabat nabi dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan cara yang ihsan.

Lalu bagaimanakah meneladani generasi sahabat nabi itu? Gambarannya adalah seperti yang diungkapkan oleh Imam al Auza’i –rohimahulloh- : “Ada lima perkara yang selalu melekat pada generasi sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan; (1) melazimi hidup berjama’ah,(2) mengikuti sunah, (3) memakmurkan masjid, (4) tilawatul Quran dan (5) jihad di sabilillah”.[Syu’abul Iman; 4/372]

Muslim sejati akan selalu berupaya meneladani para pendahulu dari kalangan salaf sholih. Salah satu perjuangan yang senantiasa dikobarkan oleh mereka adalah penjagaan syariat khilafah. Sebuah sunnah syar’iyyah yang tidak boleh diingkari oleh setiap individu yang telah mengikrarkan  dua kalimat syahadat.

Dari uraian singkat ini bisa kita ambil kesimpulan bahwa permasalahan khilafah Islamiyah menjadi bagian tak terpisahkan dalam diri seorang muslim di semua aspeknya, baik dalam aspek aqidah, fiqh dan historisnya. Di akhir zaman seperti saat sekarang ini, hanya ada dua pilihan di hadapan kita. Menjadi bagian dari pembela syariat dan berkontribusi untuk tegaknya khilafah ‘ala minhajin nubuwah ataukah menjadi bagian dari golongan pembenci syariat dan penjegal khilafah.

Hanya kepada Allah -Jalla Tsanauh- kita memohon agar dikumpulkan bersama hamba-hamba-Nya yang mencintai syari’at-Nya dan menjadi bagian dari anshorulloh (Para penolong agama Allah) demi tegaknya kembali khilafah Rosyidah hingga peribadatan hanya untuk Allah semata.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه ومن الاه

والله أعلم بالصواب

Hamba Allah yang faqir dengan ampunan-Nya

7 Dzulqo’dah 1438 H

Abu Athif –غفر الله له ولوادليه-

Hati-hati Menggunakan Kata “Seandainya”

Hati-hati Menggunakan Kata “Seandainya”
Hati-hati Menggunakan Kata “Seandainya”
Tentang seorang yang mengatakan: Seandainya dahulu Anda dahulu melakukan begini, tentu tidak akan terjadi demikian.”
Orang lain yang mendengarnya berujar: “Kata-kata semacam itu sudah dilarang oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Itu kata-kata yang dapat mengiring orang yang mengucapkannya kepada kekufuran.”
Lalu ada lagi yang bilang: “Tetapi dalam kisah tentang Musa dan Khidir, Nabi pernah bersabda: “Semoga Allah memberi rahmat kepada Musa. Kalaulah beliau mau bersabar, tentu Allah akan menceritakan kepada kita lanjutan kisah mereka..”
Orang yang lain lagi berdalil dengan sabda Rasulullah: “Mukmin yang kuat itu lebih baik dari mukmin yang lemah,” hingga ucapan: “…karena kata “seandainya” itu membuka amalan syetan.” Apakah hukum dalam hadits ini menghapus hukum dalam kisah Musa di atas atau tidak?
Semua yang dikatakan oleh Allah dan Rasul-Nya itu benar. Kata ‘seandainya’ itu Apabila digunakan sebagai ungkapan kesedihan menyesali yang telah lampau dan kecewa terhadap takdir, itulah yang dilarang, sebagaimana dalam firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu, yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang:”Kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh”. Akibat (dari perkataan dan keyakinan mereka) yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat di dalam di hati mereka..”(Ali Imraan : 156)
Itulah yang dilarang oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau bersabda:
“Kalau engkau tertimpa musibah, janganlah engkau mengatakan: “Kalau tadi aku lakukan begini, tentu jadinya akan begini dan begini..”. Tapi katakanlah: “Sudah takdir Allah, Allah melakukan apa saja yang Dia kehendaki. Karena kata “seandainya,” itu membuka pintu amalan syetan (yakni akan membuka pintu kesedihan dan kekecewaan. Yang demikian itu hanya berbahaya dan tidak bermanfaat. Tapi ketahuilah, bahwa apa saja yang menimpamu tidak akan pernah meleset. Dan segala yang meleset tidak akan pernah menimpamu. Allah berfirman:
“Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali denga izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya..” (At-Taghaabun : 11)
Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dalam ayat itu adalah seseorang yang tertimpa satu musibah lalu ia menyadari bahwa musibah itu berasal dari Allah, sehingga ridha dan berserahdiri.
Yang kedua, penggunaan kata “seandainya,” untuk menjelaskan satu pengetahuan yang bermanfaat. Seperti firman Allah:
“Sekiranya ada di langit dan di bumi ilah-ilah selain Allah, tentulah keduanya itu sudah rusak binasa..” (Al-Anbiya : 22)
Atau untuk menunjukkan kecintaan terhadap perbuatan baik dan keinginan melakukannya. Seperti ucapan:”Kalau saja aku memiliki apa yang dimiliki oleh Fulan, tentu aku akan melakukan apa yang dia lakukan..” dan sejenisnya. Ungkapan semacam itu boleh-boleh saja. Adapun sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Kalaulah beliau mau bersabar, tentu Allah akan menceritakan kepada kita lanjutan kisah mereka..” Itu termasuk jenis yang kedua. Seperti juga firman Allah:
“Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu..” (Al-Qalam : 3)
Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan senang dapat mencerikan kisah kedua Nabi itu. Maka beliau mengutarakan dengan kata-kata itu untuk menjelaskan kesenangan beliau bila kesabaran yang seandainya dilakukan Musa kala itu. Beliau memberitahukan manfaat yang ada dalam kesabaran itu. Tak ada unsur kekecewaan dan kesedihan dalam unggkapan beliau, juga tidak meninggalkan kewajiban bersabar terhadap takdir..Wallahu A’lam.
Majmu’ Al-Fatawa Ibnu Taimiyyah IX : 1033.

Sumber: (Islamqa.info)

Puasa Asyura Tidak Menghapus Kecuali Dosa-dosa Kecil

Puasa Asyura Tidak Menghapus Kecuali Dosa-dosa Kecil

Keluarga Dakwah – Yang Allah ampuni / hapus dosa melalui puasa hari Asyura tidak dapat menghapus kecuali dosa-dosa kecil. Sementara dosa besar dibutuhkan taubat nasuha.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Terdapat (hadits) shahih dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam beliau bersabda, puasa hari Arafah dapat menghapus dua tahun, dan puasa hari Asyura dapat menghapus satu tahun, akan tetapi penyebutan secara umum bahwa ia dapat menghapuskan, hal itu tidak harus menghapus dosa-dosa besar tanpa taubat. Karena Nabi sallallahu alaihiwa sallam bersabda dalam shalat Jumat ke jumat, Ramadan ke Ramadan dapat menghapus dosa diantara keduanya kalau menjauhi dosa besar. Dan diketahui bahwa shalat itu lebih agung dibandingkan puasa dan puasa Ramadan itu lebih agung dibandingkan puasa Arafah, tapi dia tidak dapat menghapuskan dosa kecuali dengan menjauhi dosa besar sebagaimana Nabi sallallahu aliahi wa sallam memberi batasan. Bagaimana seseorang menyangka bahwa puasa sunah sehari atau dua hari dapat menghapuskan (dosa) zina, mencuri, meminum khamar, judi, sihir dan semisalnya? Hal ini tidak mungkin.” (Fatawa Misriyah, 1/254).

Ibnu Qoyyim rahimahullah juga mengatakan, “Sebagian mengatakan, hari Asyura dapat menghapus seluruh dosa, sementara puasa Arafah sebagai tambahan pahala. Orang tertipu ini tidak mengetahui bahwa puasa Ramadan dan shalat lima waktu itu lebih agung dan mulia dibandingkan puasa hari Arafah dan hari Asyura. Ia dapat menghapus di antara keduanya apabila menjauhi dosa-dosa besar. Maka Ramadan ke Ramadan, Jumat ke Jumat tidak mempu menghapus dosa kecil kecuali disertai dengan menggabungkan meninggalkan dosa-dosa besar. Sehingga gabungan dari keduanya mampu menghapus dosa-dosa kecil. Bagaimana puasa sunah dapat menghapus semua dosa besar yang dilakukan oleh seorang hamba terus menerus tanpa bertaubat? Hal ini mustahil.

Tidak tertutup kemungkinan bahwa puasa Arafah dan hari Asyura dapat menghapus seluruh dosa semuanya secara umum, sehingga dia termasuk nash-nash yang mengandung janji kebaikan dengan ketentuan ada syarat dan penghalang, yaitu apabila seseorang terus menerus melakukan dosa besar hal itu dapat menjadi penghalang bagi terhapusnya dosa. Kalau tidak terus menerus melakukan dosa besar, membantu dapat membantu menghapus secara umum. Sebagaimana Ramadan dan shalat lima waktu disertai menjauhi dosa besar. Keduanya saling membantu untuk menghapuskan dosa-dosa kecil. Allah Subhanahuh wata’ala juga berfirman:

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ (سُورَةُ النِّسَاءِ: 31)

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil).” (QS. An-Nisaa’: 31)

Semoga Allah menjaukan kita dari dosa-dosa besar, menghapuskan dosa-dosa kita dan meneria

Puasa Asyura Tidak Menghapus Kecuali Dosa-dosa Kecil, Adapun Dosa Besar Hanya Terhapus Dengan Bertaubat. Semoga Allah memudahkan kita untuk selalu istiqomah di jalan-Nya. Aamiin.

Sikap seorang muslim kepada sahabat

Sikap seorang muslim kepada sahabat

Keluarga Dakwah – Sikap seorang muslim kepada sahabat

Dalam aqidah thohawiyyah disebutkan sebuah kaedah :

وَنُحِبُّ أَصْحَابَ رسُولِ الله صلى الله عليه وسلم، وَلاَ نُفْرِطُ في حُبِّ أَحَدٍ مِنْهُم؛ وَلاَ نَتَبَرَّأُ مِنْ أَحَدٍ مِنْهُم، وَنُبْغِضُ مَنْ يُبْغِضُهُم، وَبِغَيْرِ الخَيْرِ يَذْكُرُهُم، ولا نُذْكُرُهُم إِلاَّ بِخَيْرٍ, وَحُبُّهُم دِينٌ وإيمَانٌ وإحْسَانٌ، وَبُغْضُهُم كُفْرٌ ونِفَاقٌ وطُغْيَانٌ.

Kita mencintai para sahabat rosululloh shollallohu alaihi wasallam, kita tidak bersikap berlebihan dalam mencintai seorang diantara mereka. Tidak bersikap baro (berlepas diri atau benci) terhadap seorang diantara mereka. Membenci siapa saja yang membenci mereka. Selain kebaikan yang ada pada mereka, kita tidak akan menyebut perihal mereka selain kebaikan. Mencintai mereka adalah bagian dari din, iman dan ihsan. Membenci mereka bagian dari kekufuran, kemunafikan dan sikap melampaui batas

Kalimat (kita tidak bersikap berlebihan dalam mencintai seorang diantara mereka) menunjukkan bahwa kita berbeda dengan orang syiah yang melampaui batas terhadap Ali dan keluarganya. Adapun kalimat (tidak bersikap baro) sebagai pembeda antara kita dengan kaum khowarij.

Kaedah di atas didasarkan pada sabda nabi shollallohu alaihi wasallam :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: اللَّهَ اللَّهَ فِي أَصْحَابِي، لَا تَتَّخِذُوهُمْ غَرَضًا بَعْدِي، فَمَنْ أَحَبَّهُمْ فَبِحُبِّي أَحَبَّهُمْ، وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ فَبِبُغْضِي أَبْغَضَهُمْ، وَمَنْ آذَاهُمْ فَقَدْ آذَانِي، وَمَنْ آذَانِي فَقَدْ آذَى اللَّهَ، وَمَنْ آذَى اللَّهَ يُوشِكُ أَنْ يَأْخُذَهُ

Dari Abdulloh Bin Mughoffal berkata : Aku mendengar rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Alloh, Alloh ! (bertaqwalah kepada Alloh) dalam bersikap terhadap para sahabatku. Janganlah kalian menjadikan mereka sebagai bahan celaan sesudahku. Barangsiapa mencintai mereka, karena sebab kecintaanku (kepada para sahabat) aku akan mencintainya. Barangsiapa yang membenci mereka, karena kebencianku maka aku akan membencinya. Siapa yang menyakiti mereka berarti telah menyakiti diriku. Barangsiapa yang menyakiti diriku berarti telah menyakiti Alloh. Barangsiapa yang menyakiti Alloh, dikhawatirkan Alloh akan segera menurunkan adzab baginya [HR Tirmidzi]

عن الْبَرَاء رضى الله عنه قَالَ سَمِعْتُ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم أَوْ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم الأَنْصَارُ لاَ يُحِبُّهُمْ إِلاَّ مُؤْمِنٌ وَلاَ يُبْغِضُهُمْ إِلاَّ مُنَافِقٌ فَمَنْ أَحَبَّهُمْ أَحَبَّهُ اللَّهُ وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ أَبْغَضَهُ اللَّهُ

Dari Barro bin Azib rodliyallohu anhu : Aku mendengar nabi shollallohu alaihi wasallam bersabda : Al Anshor, tidaklah yang mencintai mereka kecuali mukmin. Tidaklah membenci mereka kecuali munafiq. Barangsiapa mencintai mereka, Alloh akan mencintai mereka dan barangsiapa yang membenci mereka maka Alloh akan membenci mereka [HR Muslim]

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضى الله عنه عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ آيَةُ الإِيمَانِ حُبُّ الأَنْصَارِ ، وَآيَةُ النِّفَاقِ بُغْضُ الأَنْصَارِ

Dari Anas bin Malik rodliyallohu anhu : Dari nabi shollallohu alaihi wasallam Ciri iman adalah mencintai anshor dan ciri kemunafikan adalah membenci anshor [HR Muslim]

Oleh : Ustd Oman Suratman

Pentingnya Berpegang Teguh Di Jalan Allah

Pentingnya Berpegang Teguh Di Jalan Allah

Keluarga Dakwah – Pentingnya Berpegang Teguh Di Jalan Allah

I’tisham artinya berpegang teguh. I’tisham ini ada dua macam: I’tisham kepada Allah dan i’tisham kepada tali Allah. Firman-Nya,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Dan berpegang teguhlah kalian semua kepada tali Allah dan janganlah berpecah belah…” (Ali-Imran: 103)

وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ ۖ فَنِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ

“Dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. (Al-Hajj: 78)

I’tisham merupakan kata aktiva dari ishmah (perlindungan), yang berarti berpegang kepada sesuatu yang melindungimu dan menjagamu dari sesuatu yang ditakuti atau dihindari. Maka terkadang benteng juga bisa disebut awashim, karena ia berfungsi menjaga dan melindungi. Poros kebahagiaan kehidupan di dunia dan di akhirat adalah berpegang atau berlindung kepada Allah dan kepada tali Allah. Tidak ada keselamatan kecuali dengan dua perlindungan ini.

Berpegang kepada tali Allah artinya berlindung dari kesesatan. Sedangkan berpegang kepada Allah artinya berlindung dari kebinasaan. Orang yang berjalan kepada Allah seperti orang yang sedang meniti suatu jalan menuju ke tempat tujuannya. Berarti dia membutuhkan penunjuk jalan dan keselamatan dalam perjalanannya. Dia tidak akan sampai ke tujuan kecuali dengan dua cara ini. Adanya petunjuk sudah cukup untuk menjaganya agar tidak tersesat dan sekaligus memberinya petunjuk jalan yang harus dilalui, begitu pula persiapan, kekuatan dan peralatan yang dapat melindunginya dari penghalang di tengah perjalanan.

Berpegang kepada tali Allah mengharuskan seorang hamba untuk mendapatkan petunjuk dan keharusan mengikuti dalil. Sedangkan berpegang kepada Allah mengharuskannya memiliki kekuatan, persiapan dan peralatan serta perangkat yang mendukung keselamatannya di jalan. Karena itu ungkapan orang-orang salaf tentang berpegang kepada tali Allah ini bermacam-macam. Tapi yang pasti setelah mereka mengisyaratkan kepada makna ini.

Menurut Ibnu Abbas, artinya berpegang kepada agama Allah. Menurut Ibnu Mas’ud, artinya jama’ah. Dia berkata, “Hendaklah kalian mengikuti jama’ah, karena jama’ah adalah tali Allah yang diperintahkan-Nya. Apa yang kalian benci dalam jama’ah dan ketaatan, masih lebih baik daripada apa yang kalian sukai dalam perpecahan.”

Menurut Mujahid dan Atha’, artinya membuat perjanjian dengan Allah. Sedangkan menurut Qatadah dan mayoritas mufassir, artinya adalah Al-Qur’an.

Ibnu Mas’ud mengatakan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam :

“”Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah tali Allah, cahaya yang terang benderang, obat penyembuh yang bermanfaat, perlindungan bagi siapa yang berpegang kepadanya dan keselamatan bagi siapa yang mengikuti-nya.”

Ali bin Abu Thalib mengatakan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang Al-Qur’an,

“Ia adalah tali Allah yang kokoh, dzikir kepada Dzat Yang Maha Bijaksana, jalan yang lurus, yang tidak luntur karena hawa nafsu, yang tidak berbeda bacaannya, tidak berubah karena banyak yang menolak dan tidak membuat para ulama merasa kenyang.”

Muqatil berkata, “Artinya, berpeganglah kepada perintah Allah dan ketaatan kepada-Nya, janganlah kalian berpecah belah seperti orangorang Yahudi dan Nasrani.”

Di dalam Al-Muwaththa’ disebutkan dari hadits Malik, dari Suhail bin Abu Shalih, dari ayahnya, dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

Sesungguhnya Allah meridhai tiga perkara bagi kalian dan memurkai tiga perkara bagi kalian. Dia meridhai bagi kalian: Jika kalian menyembah-Nya dan tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya, berpegang kepada tali Allah semuanya dan menyampaikan nasihat kepada orang yang diangkat Allah menjadi wall urusan kalian. Dia murka bagi kalian: Kata-mengatai, menghambur-hamburkan harta dan banyak bertanya.” (Diriwayatkan Muslim).

Pengarang Manazilus-Sa’irin menjelaskan, bahwa i’tisham kepada tali Allah artinya menjaga ketaatan kepada-Nya dengan melaksanakan perintah-Nya. Dengan kata lain, taat kepada-Nya secara tulus, karena Allah memerintahkannya dan mencintainya, bukan karena mengikuti tradisi atau karena alasan tertentu. Inilah makna iman dan mencari pahala di sisi Allah seperti yang diisaratkan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam sabdanya,

“Barangsiapa puasa Ramadhan karena iman dan mencari pa-hala di sisi Allah, dan siapa yang mendirikan shalat pada lailatul-qadar karena iman dan mencari pahala di sisi Allah, maka dosa-dosanya diam-puni.”

Sedangkan i’tisham kepada Allah artinya tawakal, berlindung, pasrah, memohon agar Dia menjaga dan memelihara. Di antara buah i’tisham adalah pertolongan Allah terhadap hamba. Menurut pengarang Manazilus-Sa’irin, i’tisham kepada Allah artinya melepaskan diri dari segala sesuatu selain Allah.

I’tisham kepada Allah ini mempunyai tiga derajat:

   I’tisham-nya orang-orang awam.

Yaitu mereka yang berpegang kepada pengabaran, dengan meyakini janji dan ancaman, mengagungkan perintah dan larangan, yang melandaskan mu’amalah kepada keyakinan dan keadilan. Dengan kata lain, orang-orang awam itu berpegang kepada pengabaran yang disebutkan dari Allah, menerimanya secara utuh tanpa ada penentangan, dengan penuh iman, yang membuat mereka mengagungkan perintah dan larangan, membenarkan janji dan peringatan. Mereka melandaskan mu’amalah kepada keyakinan dan sama sekali tidak ada keraguan.

Ada yang berkata, “Ahli nujum dan tabib menganggap bahwa jasad manusia tidak akan dibangkitkan lagi. Saya katakan, ‘Itu terserah apa pendapatmu. Kalau memang pendapatmu benar, aku pun tidak merasa rugi, karena kerugian itu akan menjadi milikmu’.” Keadilan yang menjadi dasar mu’amalah mereka, maksudnya adil dalam bermu’amalah dengan Allah dan dengan manusia. Adil dalam ber-mu’amalah dengan Allah ialah melakukan ubudiyah sesuai dengan haknya, tidak memberikan sifat-sifat Uluhiyah yang tidak semestinya, tidak bersyukur kepada selain-Nya atas nikmat-nikmat yang diterimanya dan tidak menyembah selain-Nya.

Dalam atsar Ilahy disebutkan, “Aku, jin dan manusia berada dalam pengabaran yang besar. Akulah yang menciptakan, namun selain-Ku yang disembah. Akulah yang memberi rezki, namun selain-Ku yang disyukuri.”

Dalam atsar lain disebutkan, “Wahai anak Adam, kamu tidak adil kepada-Ku. Kebaikan-Ku turun kepadamu namun keburukanmu naik kepada-Ku. Apakah kamu menyukai nikmat, padahal Aku tidak membu-tuhkan kamu, dan kamu membuatku murka karena kedurhakaan, padahal kamu membutuhkan Aku. Malaikat yang mulia senantiasa naik kepada-Ku melaporkan amalmu yang buruk.”

Sedangkan adil dalam bermu’amalah dengan hamba, ialah memperlakukan mereka dengan cara yang dia pun suka jika diperlakukan seperti itu. Yang dikatakan tentang i’tisham-nya orang-orang awam ini pada hakikatnya juga merupakan i’tisham-nya orang-orang yang lebih khusus dari orang-orang yang khusus. Tapi masalah ini tidak perlu dipermasa-lahkan.

  Adapun i’tisham-nya orang-orang khusus, ialah dengan memutuskan.

Artinya menjaga kehendak dan menahannya, menolak hal-hal yang berkaitan dengan selain Allah dan membaguskan akhlak. Hal ini juga disebut dengan istilah “Berpegang kepada tali yang kokoh”. Menolak segala kaitan (dengan selain Allah) harus dilakukan secara lahir dan batin. Tapi prinsipnya adalah memutus kaitan batin. Jika kaitan batin diputuskan, maka kaitan zhahirnya tidak akan berbahaya.

Jika ada harta di tanganmu, namun harta itu tidak ada di hatimu, maka ia tidak akan berbahaya, sekalipun jumlahnya banyak. Al-Imam Ahmad pernah ditanya, “Apakah seseorang bisa disebut orang zuhud jika dia memiliki seribu dinar?” Dia menjawab, “Bisa, tapi dengan syarat, dia tidak merasa senang karena jumlah itu semakin bertambah, dan tidak sedih jika ia semakin sedikit. Karena itu para shahabat adalah orang-orang yang paling zuhud, meskipun di tangan mereka ada harta benda yang melimpah.”

    Adapun i’tisham-nya orang-orang yang lebih khusus dari orang-orang yang khusus ialah dengan menyambung.

Artinya menyambung hubungan dan mendekatkan diri kepada Allah secara sendirian tanpa perantaraan apa pun. Pada tingkatan ini ada kehendak, cinta, pengagungan, ketakutan, pengharapan dan tawakal. Dalam hubungan antara hamba dan Rabb-nya hampir tidak ada perantara dan pembatas sedikit pun. Di sini hamba memenuhi seruan dengan senang hati dan penuh cinta, bukan karena terpaksa, seakan ada keterpaduan antara hati yang mencintai dan ruh-nya, lalu menyatu dengan kekasihnya. (Alislam / Keluargadakwah)

Sumber: Madariijus Saalikin karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah

Dosa Besar ke 5, Tidak Mengeluarkan Zakat

Dosa Besar ke 5, Tidak Mengeluarkan Zakat

Keluarga Dakwah – Dosa Besar ke 5, Tidak Mengeluarkan Zakat

Allah Ta’ala berfirman:

 وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ ۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Ali Imran: 180)

Dan Allah ta’ala juga berfirman

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ ۗ وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ

الَّذِينَ لَا يُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ

“Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, Maka tetaplah pada jalan yang Lurus menuju kepadanya dan mohonlah ampun kepadanya. dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya,(yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat.” (Fushilat: 6-7)

Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa diberi kekayaan namun tidak mengeluarkan zakatnya, ia akan didatangi ular ‘Syuja’ Aqra’ (naga botak), terdapat tanda hitam pada matanya, ia melilitnya dan menggigitnya dengan ujung mulutnya seraya berkata,’Aku adalah hartamu, aku adalah timbunanmu.’ Lalu beliau membaca ayat ini…(Ali Imran: 180)” (HR Bukhori)

Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

“Lima dibalas dengan lima.” Mereka (para sahabat) bertanya,”Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan lima dibalas dengan lima?” Beliau menjawab,”Tidaklah suatu kaum mengingkari perjanjian kecuali Allah akan jadikan musuh menguasai mereka. Tidaklah mereka berhukum dengan selain yang diturunkan Allah kecuali tersebar kefakiran diantara mereka. Tidaklah kejahatan merajalela kecuali maut tertebar di antara mereka. Tidaklah mereka berlaku curang terhadap ukuran dan timbangan kecuali tumbuh tumbuhan terlarang bagi mereka (gersang) dan mereka dilanda paceklik bertahun-tahun. Dan tidaklah mereka menolak zakat kecuali hujan akan ditahan untuk mereka.” (HR Thabrani)

(Al –Kabair, Imam Adz-Dzahabi, Darul Falah, hal. 33-37)

Dosa-Dosa Besar ke 4, Meninggalkan Shalat

meninggalkan shalat

Keluarga Dakwah  – Dosa-Dosa Besar ke 4, Meninggalkan Shalat

Allah Ta’ala berfirman,

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْئًا

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan, Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, Maka mereka itu akan masuk syurga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun,” (Maryam 59-60)

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda:

Ibnu Abbas: “Kata ‘adhaa’uuha’ (menyia-nyiakan) bukan berarti mereka meninggalkan shalat secara total, namun mereka mangakhirkan waktunya.”

Sa’id bin Musayyab, Imam para Thabi’in: “Artinya, bahwa seseorang tidak melaksanakan shalat Dzuhur hingga datang waktu shalat Ashar, tidak melaksanakan shalat Ashar hingga waktu Maghrib tiba, tidak shalat Mahgrib hingga Isya’ tiba, tidak shalat Isya’ hingga waktu Shubuh, dan tidak shalat Shubuh hingga terbit matahari. Barangsiapa meninggal sementara ia berbuat demikian dan tidak bertaubat, Allah menyediakan untuknya Ghayyun, sebuah lembah yang ada di neraka Jahannam yang sangat dalam dan busuk baunya.”

Allah ta’ala berfirman.

وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ

“Dan tidak menganjurkan memberi Makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,” (Al-Ma’un: 3-4)

Sa’ad bin Abi Waqqash: “Yang dimaksud dengan ‘mengakhirkan waktu shalat,’ adalah menunda shalat hingga habis waktunya. Mereka dikatakan sebagai mushollun (orang-orang yang shalat) namun mereka menunda pelaksanaannya hingga habis waktunya. Allah menjanjikan kepada mereka WAIL, yakni siksaat yang sangat pedih.”

Konon ada yang mengartikan dengan sebuah lembah di nereka Jahannam yang jika gunung-gunung yang ada di dunia diceburkan di dalamnya akan meleleh karena panas yang amat sangat. Wail menjadi tempat bagi orang yang menyepelekan shalat dan menundanya, kecuali ia bertaubat kepada Allah dan menyesal atas segala keteledorannya.

Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Yang pertama dihisab dari seorang hamba dari amalnya pada hari Kiamat adalah shalat; jika benar shalatnya, ia beruntung dan selamat, dan jika kurang, ia menyesal dan merugi.” (HR Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

“Janji antara kami dan mereka adalah shalat, barang siapa meninggalkannya ia telah kufur.” (HR Ahmad, Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah, dan Tirmidzi)

Dan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“(Batas) antara seorang hamba dengan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR Ahmad, Muslim, Abu Dawud, Nasa’i, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Dosa-Dosa Besar: 2 Membunuh

Dosa-Dosa Besar: 2 Membunuh

Keluarga Dakwah – Dosa-Dosa Besar: 2 Membunuh

Allah Ta’ala berfirman

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

“Dan Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja Maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (An-Nisa’: 93)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Jika dua orang mukmin saling bertemu dengan kedua pedangnya, maka baik si pembunuh atau yang dibunuh di dalam neraka.”Ada yang bertanya,”Wahai Rasulullah, yang ini memang pembunuh, bagaimana halnya yang dibunuh?” Rasulullah menjawab,”Karena ia juga antusias untuk membunuh sahabatnya.” (HR. Ahmad, Bukhori dan Muslim)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Membunuh seorang mukmin itu lebih besar kadarnya bagi Allah daripada lenyapnya dunia.” (HR. Nasa’i dan Baihaqi)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Dosa-dosa besar itu adalah syirik terhadap Allah, durhaka kepada orang tua, membunuh jiwa, dan sumpah ghamus (sumpah yang disertai dusta)”. (HR Bukhori, Muslim, dan Nasa’i)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barang siapa membunuh orang kafir mu’ahid (orang kafir yang berada dalam perlingungan negara Islam), ia tidak mencium bau surga. Dan sesungguhnya baunya dapat tercium sejauh empat puluh tahun perjalanan.” (HR Bukhori)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barang siapa membantu membunuh seorang Muslim walaupun hanya setengah kata, ia akan menemui Allah sementara antara kedua matanya tertulis kata ‘ayis’ (putus asa) dari rahmat Allah ta’ala.” (HR Ahmad dan Baihaqi)

 

(Al –Kabair, Imam Adz-Dzahabi, Darul Falah, hal. 6-10)

Nilai-Nilai Tauhid dalam Ibadah Haji

Nilai-Nilai Tauhid dalam Ibadah Haji

Keluarga Dakwah – Nilai-Nilai Tauhid dalam Ibadah Haji

Ibadah haji merupakan rukun Islam yang kelima, seorang muslim yang secara finansial cukup dan secara fisik mampu, wajib baginya untuk segera melaksanakan kewajiban ini. Ibadah haji mempunyai banyak keutamaan, diantaranya adalah apa yang disebutkan oleh Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam beberapa hadistnya :

Pertama : Haji Mabrur pahalanya adalah syurga, sebagaimana hadist di bawah ini :

عن أبي هريرة رضى الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : العمرة إلى العمرة كفارة لما بينهما ، والحج مبرور ليس له جزاء إلا الجنة

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Umrah sampai umrah berikutnya merupakan kaffarat ( penebus dosa ) yang dilakukan antara keduanya , dan haji mabrur tidak ada pahalanya kecuali syuga ( HR Bukhari dan Muslim )

Kedua : Haji Mabrur akan dihapus segala dosanya selama ini, sebagaimana hadist di bawah ini :

عن أبي هريرة رضى الله عنه ، قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : من حج فلم يرفث ولم يفسق ، رجع كيوم ولدته أمه

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya ia berkata: Saya pernah mendengar Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam : ” Barang siapa yang melakukan iabdah haji sedang dia tidak melakukan tindakan rafast ( melanggar aturan haji ) dan fasik, niscaya dia akan pulang ke kampungnya dalam keadaan bersih dari dosa-dosanya sebagaimana anak yang baru dilahirkan oleh ibunya ( HR Bukhari dan Muslim )

Ketiga : Haji Mabrur lebih utama ( khusus bagi wanita ) dari pada ikut berjihad di jalan Allah, sebagaimana hadist Aisyah radhiallahu ‘anha di bawah ini :

عن عائشة رضى الله عنها ، قالت : قلت : يا رسول الله ، نرى الجهاد أفضل العمل أفلا نجاهد ؟ قال : لكن أفضل من الجهاد حج مبرور

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, berkata bahwasanya ia pernah berkata : ” Wahai Rossulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, kami melihat bahwa jihad merupakan amalan yang utama, bolehkan kami ikut berjihad ? Sabda Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam : ” Akan tetapi saya tunjukkan amalan yang lebih utama dari jihad yaitu haji yang mabrur ( HR Bukhari )

Keutamaan –keutamaan tersebut hanya akan diraih oleh orang yang telah memenuhi syarat- syarat yang telah ditentukan oleh Allah dan Rosul-Nya untuk dapat diterima amal ibadahnya, yaitu niat ikhlas hanya mencari ridha Allah dan sesuai dengan tuntunan Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Selain itu, ibadat haji sebenarnya mengandung ajaran-ajaran tauhid yang saat ini banyak kaum muslimin yang tidak memperhatikannya, padahal tauhid merupakan tujuan utama dari ibadah haji itu sendiri.

Diantara nilai-nilai yang terkandung dalam ibadah haji adalah sebagai berikut :

Nilai Tauhid Pertama :

Seseorang yang hendak melaksanakan haji, diharuskan untuk melakukan ” Ihram “, yaitu berniat haji hanya untuk mencari ridha Allah ta’ala. Hal ini menunjukkan nilai tauhid yang sangat tinggi, karena kalau dia melaksanakan haji sekedar untuk pamer dan ingin dikatakan pak haji atau bu haji, ataupun hanya sekedar ingin bekerja mencari uang, tentunya ibadah hajinya tidak akan diterima oleh Allah swt. Inilah salah satu makna kalimat ” La ilaha illallah ” , yaitu tidak bertindak, beramal maupun beribadat kecuali hanya mencari ridho Allah ta’ala.

Kemudian timbul sebuah pertanyaan : Apakah dibolehkan melaksanakan ibadah haji sekaligus bekerja atau berdagang ? Jawabannya dibolehkan bagi seorang yang melakukan ibadah haji untuk sambil berniaga atau bekerja, tersebut dalam firman Allah ta’ala :

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُواْ فَضْلاً مِّن رَّبِّكُمْ

” Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu” . ( Qs Al Baqarah : 198 )

Hanya saja kebolehan ini disyaratkan untuk tetap menjadikan ibadah haji sebagai tujuan utamanya dan berniaga sebagai pekerjaan sambilan. Namun kenyataannya sekarang, bahwa ibadah haji telah menjadi barang komoditi bagi orang-orang yang mau memanfaatkan amalan akherat sebagai sarana untuk mencari keuntungan dunia. Fenomena semacam ini sangat mempengaruhi cara beribadah, bermuamalah dan berpikir pada sebagian besar kaum muslimin. Dan inilah rahasia kenapa selalu ada kasus dan masalah dalam penyelenggaran ibadah haji di negara kita. Kecenderungan untuk selalu mengejar keuntungan dunia yang sebanyak-banyaknya tanpa mengindahkan kode etik ajaran Islam membuat suasana haji yang mestinya diliputi dengan kekhusu’an, keikhlasan, kaharuan dan keimananan itu berubah menjadi ketegangan, kekerasan, ketakutan, kecemasan dan kebimbangan. Tidak jarang disela-sela ibadah haji terjadi pencurian, penipuan, perampokan, perampasan, penggelapan uang, pelecehan seksual , bahkan pemerkosaan. Ketika musim haji tiba, mestinya orang-orang yang berniat melakukan ibadah haji mempersiapkan diri dengan memperbaiki niat dan mempelajari cara-cara melakukan ritual manasik haji yang sesuai dengan tuntutan Rosulullah saw, akan tetapi yang kita dapati sekarang bahwa yang menjadi pikiran sebagian dari kaum muslimin yang berangkat ke tanah suci adalah bagaimana bisa mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya pada musim tersebut, walaupun harus melanggar ajaran-ajaran Islam.

Nilai Tauhid Kedua :

Ketika ber-” ihram ” seorang laki-laki tidak diperbolehkan menggunakan pakaian yang berjahit maupun yang berbentuk pakaian jadi, dan disunnahkan untuk memilih warna putih. Hal ini sebagai pesan bahwa Allah ta’ala tidaklah melihat kepada bentuk dan wajah manusia akan tetapi yang dilihat adalah hati dan ketaqwaan. Ini sesuai dengan sabda Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam :

إن الله لا ينظر إلى صوركم و لا إلى أجسامكم ولكن ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم

” Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk dan fisik kamu, akan tetapi Allah hanya melihat kepada hati dan amal perbuatanmu ”

Selain itu, pakaian ihram yang serba putih mengingatkan kita bahwa manusia suatu saat akan menghadap Allah ta’ala di akherat nanti tanpa membawa harta, keluarga, jabatan dan gelar, akan tetapi yang dibawa adalah amalan dan ibadahnya. Hal ini sesuai dengan sabda Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam :

إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث : صدقة جارية ، أوعلم ينتفع به ، وولد صالح يدعو له

” Jika anak Adam mati, maka terputus amal perbuatannya kecuali tiga hal : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendo’akannya ( HR Muslim )

Oleh karenanya, ketika salah satu dari kaum muslimin yang meninggal dunia, tidak boleh kuburannya dibangun dan dihiasai sebagaimana menghiasi gedung. Dan anehnya yang terjadi di negara-negara kapilatis yang maju, mereka memakaikan baju yang terbaik untuk orang yang sudah meningal, bahkan terkadang menyertakan barang-barang kesayangannya ke dalam liang kuburannya, selain itu kuburan –kuburan mereka dibangun dan dihiasi bagai gedung-gedung yang megah. Dalam ayat lain Allah berfirman :

وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُم بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِندَنَا زُلْفَى إِلَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُوْلَئِكَ لَهُمْ جَزَاء الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ آمِنُونَ

” Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam syurga) (QS. Saba’ : 37 )

Adapun pakaian ihram yang berwarna putih menunjukkan bahwa untuk menghadap Allah dibutuhkan kesucian dan kebersihan hati dari noda-noda syirik, dan dari niat mencari selain ridha Alah swt, dibutuhkan juga kebersihan hati dari rasa dengki , hasad dan iri, serta kebersihan hati dari tanggungan orang lain. Oleh karenanya, dianjurkan pada setiap orang yang hendak melaksanakan ibadah haji untuk melunasi hutang –piutangnya terlebih dahulu, mengembalikan pinjaman dan titipan, meminta maaf pada orang-orang yang pernah disakitinya, dan memohon do’a restu dari orang tua dan para ulama. Hal itu dimaksudkan agar dalam melaksanakan ibadah haji nanti, hatinya sudah bersih, tenang pikirannya, bahkan siap setiap saat untuk menghadap Allah jika dipanggil Allah swt di tanah suci nanti. Sungguh sangat benar firman Allah :

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ، إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, ( QS. Asy-Syu’ara : 88-89 )

Nilai Tauhid Ketiga :

Setelah melakukan ” ihram “, orang yang melaksanakan ibadah haji dianjurkan untuk secara terus menerus mengucapkan do’a ” talbiyah “ yang berbunyi :

لبيك اللهم لبيك ، لبيك لا شريك لك لبيك ، إن الحمد والنعمة لك والملك لا شريك لك

“Ya Allah , kami menjawab panggilan-Mu secara terus menerus, tiada sekutu bagi-Mu, sesunnguhnya segala pujian dan nikmat hanyalah milik-Mu , begitu juga seluruh kerajaan ( langit dan bumi ) hanyalah milik-Mu tiada sekutu bagi-Mu . ”

Diriwayatkan bahwa Amru bin Lahyi seorang raja yang cukup lama memerintah daerah Makkah dan sekitarnya, pada suatu ketika dia dengan beberapa rombongan datang ke kerajaan Roma, di sana rombongan raja tersebut mendapatkan orang-orang Romawi menyembah berhala, dan mereka tertarik untuk mengikutinya, sehingga beberapa patung sempat diboyong ke Mekkah untuk dijadikan sesembahan. Ketika Amru bin Lahyi hendak melakukan umrah, dia mengucapkan : ” Labbaika Allahumma labbaika, labbaika la syarika laka labbaik ” , mendengar hal itu, syetan tidak senang dan hendak menyesatkannya. Untuk tujuan tersebut dia merubah dirinya menjadi manusia dan berkata kepada Amru bin Lahyi : ” Wahai baginda raja, doa talbiyah itu masih ada tambahannya, yaitu : ” Illa syarikan huwa laka ” ( kecuali satu sekutu milik-Mu). Mendengar pernyataan syetan tersebut Amru bin Lahyi bergetar hatinya dan merasa takut. Gelagat seperti itu tidak disia-siakan oleh syetan, kemudian dia meneruskannya : ” Tamlikuhu wama laka ” ( Engkau memiliki sekutu tersebut dan apa-apa yang sudah menjadi milik-Mu)

Sejak peristiwa itu, diketahui bahwa Amru bin Lahyi ini adalah orang pertama kali yang memasukkan kalimat syirik dan mencampuradukkan dengan kalimat talbiyah dalam haji di tanah Arab. Rosulullah saw bersabda dalam hadist Isra’ Mi’raj :

عرضت عليَّ النَّار ؛ فرأيت فيها عمرو بن لحي يجرُّ قصبه في النار

” Diperlihatkan kepadaku api neraka, dan saya melihat usus perut Amri bin Lahyi diseret ke dalam api neraka ”

Nilai Tauhid Keempat :

Orang yang melaksanakan ibadah haji ketika sampai di Mekkah diperintahkan untuk melakukan thowaf sebanyak tujuh kali, dan disunnahkan untuk mencium ” hajar aswad “. Dalam hal ini, Umar bin Khattab ra. ketika mencium hajar aswad pernah berkata kepada batu tersebut: ” Saya mengetahui bahwa kamu hanyalah sebuah batu, tidak memberikan madharat dan manfaat, kalau bukan karena saya pernah melihat Rosulullah saw mencium-mu, maka aku tidak akan menciummu. ”

Perintah untuk mencium hajar aswad yang tidak lebih dari sebuah batu tersebut memberikan pesan bahwa dalam beribadah ini, kadang kita tidak mengetahui hikmah dibaliknya, atau perbuatan tersebut tidak masuk akal kita, tetapi karena itu adalah perintah Allah dan Rosul-Nya, maka kita sebagai orang yang beriman wajib mendengar dan taat tanpa mencari-cari alasan. Dalam hal ini Allah swt berfirman :

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا

” Dan tidak sepatutnya bagi orang laki-laki yang beriman dan begitu juga perempuan yang beriman, jika Allah dan Rosul-Nya telah memutuskan suatu keputusan, akan ada pilihan lain dalam urusan tersebut. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rosul-Nya, maka sungguh telah sesat dengan kesesatan yang nyata . ” ( Qs Al Ahzab : 36 )

Ayat di atas memberikan pengertian bahwa salah satu makna dari kalimat ” Lailaha illallah ” adalah bahwa tiada yang boleh ditaati perintah-Nya secara mutlak kecuali perintah Allah swt dan perintah Rosul-Nya saja, walaupun kadang-kadang perintah tersebut tidak ataupun belum bisa kita cerna secara akal sehat, bukankah kita setiap hari melakukan sholat lima waktu dengan jumlah rekaat tertentu, dan banyak dari kita yang tidak tahu akan hikmah dibalik bilangan-bilangan rekaat dalam sholat tersebut ?

Di sisi lain, kita dapati umat agama lain selain Islam, mereka mentaati para pemimpin dan pendeta, serta tokoh-tokoh agama mereka secara membabi buta, walaupun sering bertentangan dengan apa yang diperintahkan oleh Allah swt. Sebagaimana yang tersebut dalam firman Allah :

اتخذوا اتَّخَذُواْ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُواْ إِلاَّ لِيَعْبُدُواْ إِلَـهًا وَاحِدًا لاَّ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

” Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.( Qs At Taubah : 31 )

Diriwayatkan bahwa ketika mendengar ayat tersebut Adi Bn Hatim, salah seorang sahabat yang pernah memeluk agama Nasrani berkata Rosulullah saw : Wahai Rosulullah saw sebenarnya kami tidak menyembah para pendeta tersebut dan tidak sujud kepada mereka ? Kemudian Rosulullah bertanya kepadanya : ” Akan tetapi bukankah jika para pendeta tersebut mengharamkan apa yang dihalalkan Allah dan menghalalkan apa yang diharamkan Allah kemudian kamu mentaatinya ? ” Benar ya Rsoulullah ” Jawab Adi bin Hatim. Kemudian Rosulullah saw bersabda : ” Itulah maksud menyembah para pendeta ” ( HR Ahmad dan Tirmidzi )

Nilai Tauhid Kelima :

Setelah melakukan thowaf di Ka’bah sebanyak tujuh kali, seorang yang melakukan ibadah haji diperintahkan untuk melakukan sholat dua reka’at di belakang maqam nabi Ibrahim. Kenapa ? Hal itu untuk mengingatkan akan jasa-jasa nabi Ibrahim alaihi salam, yang dijadikan Allah ta’ala sebagi bapak tauhid, karena telah meletakkan dasar-dasar tauhid bagi kehidupan manusia sesudahnya.

Selain itu, pada waktu sholat dua reka’aat tersebut disunnahkan untuk membaca surat Al Kafirun pada reka’at pertama. Surat Al Kafirun itu berisi tentang perlepasan diri dari seluruh apa yang disembah kecuali Allah ta’ala , dan pada reka’at kedua disunnahkan untuk membaca suratAl Ikhlas yang berisi tentang ke-Esaan Allah ta’ala.

Ini semua memberikan pesan kepada kita bahwa kalimat tauhid harus selalu disebut dan dipelajari serta digali secara terus menerus, untuk kemudian diaplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Nilai Tauhid Keenam :

Setelah melakukan thowaf tujuh kali, dan sholat dua rek’at dibelakang maqam Ibrahim, diperintahkan untuk melakukan Sa’I antara Shofa dan Marwah sebanyak tujuh kali. Ibadat ini mengingatkan kepada kita akan peristiwa yang dialami oleh Siti Hajar bersama anaknya Ismail yang pada waktu itu masih bayi. Mereka berdua ditinggal oleh Nabi Ibrahim di tengah –tengah gurun pasir yang kering, gersang dan panas. Ketika Siti Hajar menanyakan kepada nabi Ibrahim tentang alasan perbuatan tersebut, nabi Ibrahim hanya diam saja, Akantetapi ketika Siti Hajar bertanya apakah ini perintah Allah ta’ala ?, ketika juga nabi Ibrahim mengiyakannya. Mendengar jawaban tersebut siti Hajar berkata : ” Kalau begitu, saya yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan kami “. Sebuah pernyataan yang keluar dari wanita yang kokoh imannya. Tetapi walaupun begitu, Siti Hajar tidaklah begitu saja pasrah dengan keadaan, dan hanya duduk serta berdo’a kepada Allah menunggu datangnya pertolongam, akan tetapi dengan kekuatan imannya tersebut, beliau bangkit dan berusaha dengan sekuat tenaga mencari air untuk anaknya, berlarian pulang pergi antara bukit Shofa dan Marwah, sambil terus bertawakkal dan berkeyakinan bahwa Alah akan menolong dan membantu-Nya. Iya…nabi Ibrahim teelah meninggalkannya dan anaknya dengan perintah Allah, maka Allah tidak akan menyia-nyiakannya begitu saja. Dengan keyakinan kuat seperti itu, maka keluarlah air zamzam dari kaki Ismail, hingga sampai sekarang bisa seluruh umat Islam bias menikmati hasil dari keimanan Siti Hajar tersebut.

Hal yang sama juga pernah dilakukan oleh Rosulullah saw pada perjanjian Hudaibiyah, ketika para sahabat sangat marah dan merasa dihinakan oleh kaum kafir Qurays dengan isi perjanjian yang tidak adil dan sangat merugikan kaum muslimin, mereka tidak bisa menerima isi perjanjian tersebut dan mengeluh kepada Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Melihat keadaan para sahabatnya seperti itu, Rosulullah saw menghibur mereka dengan sebuah pernyataan yang diukir oleh sejarah dengan tinta emas : ” Itu adalah ketentuan Allah, saya hanyalah hamba-Nya, dan saya yakin bahwa Allah ta’ala tidaklah akan menyia-nyiakan diriku “. Begitulah kepercayaan seorang mukmin yang benar terhadap perintah dan ketentuan Allah ta’ala, yang walaupun secara kasat mata mungkin merugikan dan tidak sesuai dengan keinginannya, akan tetapi dia harus yakin bahwa dibalik semua itu ada maslahat yang lebih besar yang tidak diketahuinya. Dalam hal ini, Allah ta’ala berfirman :

وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui ( QS Al Bqarah : 216 )

Itulah salah satu makna dan arti dari kalimat tauhid : Lailaha illallah, yang artinya tidak ada yang bisa dijadikan tempat sandaran dan tawakkal kecuali Allah ta’ala.

Nilai Tauhid Ketujuh :

Ketika melakukan Sa’i antara Shofa dan Marwah, seorang yang melakukan ibadah haji diperintahkan untuk berdo’a dengan lafadh sebagai berikut :

الله أكبر، الله أكبر ، الله أكبر, لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك، وله الحمد، وهو على كل شيء قدير، لا إله إلا الله وحده ، لا شريك له، أنجز وعده، ونصر عبده، وهزم الأحزاب وحده.

” Allah Maha Besar 3x , Tiada Ilah kecuali Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, Yang mempunyai kerajaan dan pujian, dan Dia Maha Mampu atas segala sesuatu, Tiada ada Ilah kecuali Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, Yang telah melaksanakan janji-Nya, menolong hamba-Nya dan menghancurkan pasukan Ahzab dengan sendiri saja.“

Do’a di atas diulang-ulang sebanyak tiga kali dan dibaca setiap naik sampai pada Shofa dan Marwah. Ini semua menunjukkan betapa besar ajaran tauhid dalam ibadah haji.

Nilai Tauhid Kedelapan :

Ketika Wukuf di padang Arafah yang merupakan inti dan rukun dari ibadah haji, orang yang melakukan ibadah haji dianjurkan untuk banyak berdo’a, bersimpuh dan menangis di hadapan Allah ta’ala serta memohon ampunan dan rahmat-Nya. Karena wukuf di Arafah adalah waktu yang paling utama dan berharga dalam hidup seseorang , pada saat –saat tersebut Allah akan menyelamatkan para hamba-Nya dari api neraka dan membanggakannya pada malaikat. Sebagaimana tersebut dalam salah satu haditsnya :

وروى ابن حبان من حديث جابر عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: مَا مِنْ يَوْمٍ أَفْضَلُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، يَنْزِلُ اللَّهُ تَعَالَى إلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيُبَاهِي بِأَهْلِ الْأَرْضِ أَهْلَ السَّمَاءِ

” Diriwayatkan dari Ibnu Hibban dalam shohihnya dari hadust Jabir bahwasanya Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ” Tiada hari yang paling utama di sisi Allah daripada hari Arafah , pada waktu itu Allah turun ke langit yang paling dekat dan membanggakan orang-orang yang sedang wukuf di Arafah kepada para penghuni langit ”

Waktu-waktu yang mustajab untuk berdo’a adalah setelah tergelincir matahari hingga terbenam dan puncaknya adalah beberapa saat sebelum terbenam matahari. Yang unik dalam wukuf di Arafah ini adalah do’a yang pernah dilantunkan oleh Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang tersebut dalam salah satu haditsnya :

أفضل الدعاء يوم عرفة ، وأفضل ما قلته أنا والنبيون من قبلي: لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك، وله الحمد، وهو على كل شيء قدير

Do’a yang paling utama pada hari Arafah dan perkataan paling utama yang pernah aku ucapkan dan diucapkan oleh paa nabi sebelumku adalah : ” Tiada Ilah kecuali Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, Yang mempunyai kerajaan dan pujian, dan Dia Maha Mampu atas segala sesuatu,( HR Tirmidzi, Ahmad dan Malik )

Kalau kita perhatikan hadist di atas, ternyata tidak kita dapatkan lafadh do’a, yang ada hanyalah lafadh pujian kepada Allah ta’ala. Akan tetapi walau begitu Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya dengan do’a. Hal serupa pernah ditanyakan seseorang kepada Sofyan bin Uyainah seorang pakar hadist pada zamannya, bahwa lafadh dalam hadist di atas bukanlah do’a, beliaupun menjawab bahwa Allah ta’ala pernah berfirman dalam salah satu hadist qudsi-Nya :

إذا شغل عبدي ثناؤه على عن مسألتي أعطيته أفضل ما أعطى السائلين

” Jika hamba-Ku sibuk dengan memuji-Ku ( dalam riwayat lain disebutkan : ” dengan mengingat-Ku ) sehingga lupa untuk berdo’a dan meminta kepada-Ku, maka niscaya Aku berikan kepadanya sesuatu yang lebih utama dari apa yang diminta oleh orang-orang yang mengucapkan do’a dan memohon banyak permintaan “

Oleh : DR. Ahmadzain Annajah.MA

Dosa-dosa Besar: 1 Syirik

AL KABAAIR 1 SYIRIK

Keluarga Dakwah – Dosa-dosa Besar: 1 Syirik

Dosa terbesar adalah syirik kepada Allah Ta’ala.

Syirik 1 (Syirik Akbar), menjadikan Allah sekutu; menyembah selain Allah baik berbentuk batu, pohon, matahari, bulan, seorang nabi, seorang syaikh, bintang, malaikat, dan lain-lain.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (An-Nisaa: 48)

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (Luqman: 13)

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۖ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun” (Al-Maaidah: 72)

Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Maukah kalian aku beritakan tentang dosa paling besar (tiga kali)?” Mereka menjawab,”Mau wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda,”Menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” Rasulullah tadinya bersandar lalu duduk tegak dan bersabda,”Ketahuilah, dan ucapan palsu. Ketahui pula, persaksian palsu.” Rasulullah terus mengulang-ulang hingga kami berkomentar,”Seandainya saja beliau diam.” (Muttafaq ‘Alaihi)

Syirik 2, Riya’ saat melakukan amal ibadah sebagaimana firman Allah,

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (Al-Kahfi: 110)

Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Jauhilah oleh kalian syirik kecil.” Mereka (para sahabat) bertanya,”Wahai Rasulullah, apakah syirik kecil itu?” Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Riya’, Allah Ta’ala pada saat memberi balasan kepada para hamba atas amal perbuatan mereka berfirman,’Pergilah kalian menemui orang-orang yang amal kalian perlihatkan kepada mereka di dunia dan lihatlah apakah kalian mendapatkan pahala dari mereka’.” (HR Ahmad dan Tirmidzi)

(Al –Kabair, Imam Adz-Dzahabi, Darul Falah, hal. 1-2)