Bersama dalam Islam

Sang Penggerak Itu Bernama Hati

Sang Penggerak Itu Bernama Hati

0

Sesungguhnya di dalam tubuh kita ada segumpal daging, yang bilamana daging itu baik maka baiklah seluruh badan kita.

Alaaa wahiyal qalbu… Dialah yang bernama hati…

Eksistensi hati dalam tubuh kita bagaikan seorang panglima yang mempunyai kewenangan mutlak dalam mengatur seluruh pasukannya.

Dialah awal mula kelahiran sebuah tekad dan niat yang akan menjadi pedoman bagi anggota badan yang lain dalam bekerja.

Instruksi hati lah yang akan mengarahkan anggota badan yang lain untuk berbuat dan bertindak, entah ke arah yang baik ataupun arah yang buruk, kepada cahaya kebenaran ataupun gulita kebathilan, kepada indahnya kebaikan ataupun tipu daya keburukan.

Hudzaifah bin Yaman RA mengkategorikan hati menjadi empat kategori.

Yang pertama adalah hati yang hidup dan bersih, di dalamnya terpancar cahaya keimanan.

Cahaya yang menyebabkan sang pemilik akan selalu membuka tangannya kepada kebenaran dan mengunci rapat-rapat pintu rumahnya untuk kebathilan yang hadir.

Cahaya yang membawa pemiliknya kepada kesegaraan yang dipenuhi antusiasme terhadap ajakan-ajakan kebaikan dan menolak kemungkaran pada pandangan pertama.

Yang kedua adalah hati yang tertutup, tertutup dari cahaya dakwah sehingga menjadikannya gelap gulita.

Pemilik hati ini akan selalu menolak kebenaran dan tak akan menerima apapun kecuali keburukan saja. Inilah hati orang-orang yang tidak mau menerima kebenaran dikarenakan kesombongan mereka sehingga Allah menghukum mereka dengan “kematian” hati mereka.

Yang ketiga adalah hati yang terbalik. Inilah hati-hati orang munafik, orang yang telah mengetahui esensi sebuah kebenaran tetapi justru mengingkarinya. Telah melihat hakikat kebenaran namun justru berpura-pura buta dan berperilaku seperti orang buta dalam kesehariannya.

Mereka merasa telah mampu menipu Allah SWT, padahal mereka tidak sedang menipu siapapun melainkan diri mereka sendiri.

Yang keempat adalah hati yang memiliki dua unsur, yaitu keimanan dan kemunafikan. Hati seperti ini akan bergantung kepada unsur mana yang mendominasi. Jika sang pemilik bergaul dengan orang-orang beriman maka dia akan menghirup dan meresapi wanginya keimanan. Sebaliknya ketika dia berbaur dengan pelaku keburukan maka kulitnya akan melepuh terkena panasnya percikan-percikan api kemungkaran.

Leave A Reply

Your email address will not be published.