Bersama dalam Islam

Seimbang antara Hak dan Kewajiban

Seimbang antara Hak dan Kewajiban

0

Keluarga Dakwah – Salah satu ciri keluarga Bahagia adalah Seimbang antara Hak dan Kewajiban. Hak dan kewajiban adalah perkara yang wajib diperhatikan dan dipenuhi oleh pasangan suami istri, supaya keduanya hidup damai dan saling memahami. Karena itulah, hal ini memerlukan pembahasan dan observasi baik dari buku maupun internet, serta menanyakannya kepada para pakar tentang hak dan kewajiban masing-masing anggota keluarga, baik secara personal, sosial, maupun syar’i.

Berdasarkan riset kasus perceraian terbukti bahwa tidak mengerti hak dan kewajiban adalah faktor terbesar problematika suami-istri. Masalah ini dapat terurai dengan mempelajari, manmbah wawasan, dan bertanya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (Al-Baqarah: 228)

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ingatlah! Kalian memiliki hak atas istri-istri kalian, dan istri kalian memiliki hak atas kalian. Adapun hak kalian atas mereka; mereka tidak memasukkan ke ranjang mereka siapa saja yang kalian benci, dan tidak mengizinkan siapa yang kalian benci untuk masuk rumah. Adapun hak mereka atas kalian; kalian berbuat baik dengan memberi makan dan pakaian kepada mereka.” (HR At-Tirmidzi)

Mu’awiyah bin Haidah bertanya,”Wahai Rasulullah, apa hak istri-istri kami atas kami?” Beliau menjawab:

أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ، وَتَكْسُوهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ، وَلاَ تَضْرِبِ الوَجْهَ، وَلاَ تُقَبِّحْ، وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِي الْبَيْتِ.

“Engkau memberinya makan jika engkau makan, engkau memberinya pakaian jika engkau berpakaian, janganlah memukul wajah dan janganlah menjelek-jelekkannya serta janganlah memisahkannya kecuali tetap dalam rumah.” (HR. Ibnu Majah, Abu Dawud, Ibnu Majah)

Maksud dari “jangan cerca” yaitu tidak mengatakan,”Semoga Allah memburukkanmu!” Sebagian suami memenuhi hak istri secara materi, bahkan melebihkannya. Namun, ia kurang memperhatikan perasaan istri, hanya karena alasan banyak kerja dan sibuk. Begitu pula sebagian istri mengerjakan pekerjaan rumah secara sempurna. Namun, ia juga kurang memperhatikan perasaan suami, terutama saat anak-anak mulai banyak dan umur semakin bertambah. Cacat seperti ini selamanya tidak bisa diterima, baik dari pihak suami maupun istri. Karena akanmenumbulkan dampak kehidupan rumah tangga, dan berujung pula pada masyarakat.

(Dirangkum dari 99 Tips Rumah Tangga Bahagia, Dr. Musyabbab bin Fahd Al-Ashimi)

Leave A Reply

Your email address will not be published.