Bersama dalam Islam

Sya’ban, Bulan Diangkatnya Amal

0

Keluarga Dakwah – Sya’ban, Bulan Diangkatnya Amal – Saat malam tiba, bulan sabit telah menghias langit. Begitu indahnya. Seakan ia mengumumkan kepada dunia: Ramadhan akan segera tiba. Dan diangkatlah amal-amalmu kepada-Nya.

Dalam akuntansi, kita mengenal istilah tutup tahun buku. Itulah ketika pembukuan tahunan dilaporkan, jurnal diangkat. Pemerintah -selama ini- terkesan banyak program di akhir tahun; menyerap sebanyak-banyaknya anggaran yang tersedia. Perusahaan biasa menggenjot omset, memperbesar laba. Agar tutup tahun buku menjadi akhir yang manis bagi perjalanan. Lalu bagaimana dengan kita?

Rasulullah memberikan contoh. Sang junjungan memberikan teladan.

أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Usamah berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, saya tidak melihat engkau berpuasa di satu bulan melebihi puasamu di bulan Sya’ban.” Rasulullah menjawab, “Ini adalah bulan yang dilalaikan oleh kebanyakan manusia, yaitu antara bulan Rajab dan Ramadhan. Di bulan inilah amal perbuatan manusia diangkat kepada Rabb semesta alam. Karena itu aku ingin saat amalku diangkat kepada Allah, aku sedang berpuasa.” (HR. An-Nasa’i. Al Albani berkata “hasan”)

Itulah Rasulullah. Dan semestinya, logika seperti itu juga dipakai oleh para pemburu akhirat. Maka ia akan lebih bersemangat menghabiskan waktunya di bulan Sya’ban dengan kebaikan melebihi semangat pemerintah menghabiskan anggaran. Ia lebih bersemangat mengejar keridhaan Allah dan pahala-Nya melebihi semangat perusahaan mengejar omset dan keuntungan.

Senada dengan hadits di atas, Imam Bukhari dan Muslim merekam kebiasaan Rasulullah menunaikan puasa Sya’ban sebagaimana dituturkan oleh Bunda Aisyah:

لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

Rasulullah SAW tidak pernah berpuasa sunnah di satu bulan lebih banyak daripada bulan Sya’ban. Sungguh, beliau berpuasa penuh pada bulan Sya’ban. (HR. Bukhari)

كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً

Beliau berpuasa di seluruh Sya’ban, kecuali sedikit darinya (hanya beberapa hari tidak berpuasa). (HR. Muslim)

Syaikh Muhyidin Mistu, Mushthafa Al-Bugha, dan ulama lainnya mengomentari hadits di atas dalam Nuzhatul Muttaqin, “Berpuasa sunnah pada bulan Sya’ban memiliki keistimewaan tersendiri. Sekaligus untuk persiapan menghadapi puasa Ramadhan.”

Sementara ada logika terbalik yang berkembang di masyarakat. “Mumpung belum Ramadhan,” kata sebagian orang, “kita puas-puaskan bermaksiat.” Na’udzubillah. Betapa jeleknya catatan amal orang yang seperti ini. Amalnya diangkat kepada Allah, sementara ia tengah berasyik masyuk dalam maksiat dan kedurhakaan kepada-Nya. Lebih mengenaskan lagi, jika kemudian ia mati tiba-tiba. Bukankah di zaman sekarang semakin banyak saja orang yang mati tiba-tiba? Koran nasional pagi ini juga memberitakan, seorang tokoh organisasi tertentu yang tengah berpidato, kelihatan sehat dan bugar, tiba-tiba saja ambruk dan meninggal seketika. Siapa yang menjamin kita selamat dari kematian yang tiba-tiba?

Bukankah seharusnya kita suka, ketika amal kita diangkat kepada Allah, kita tengah beribadah kepada-Nya, berpuasa sya’ban, serta berbuat kebajikan. Dan kita pun bermohon kepada Allah, dalam keadaan beribadah dan mengerjakan kebaikan lah kita menghadap-Nya. Husnul khatimah. []

Leave A Reply

Your email address will not be published.