Bersama dalam Islam

Waktu-Waktu yang Disunnahkan Istighfar

Waktu-Waktu yang Disunnahkan Istighfar

0

Jalinan Keluarga Dakwah – Beristighfar atau memohon ampunan kepada Allah SWT memang disyariatkan di setiap waktu. Akan tetapi, ada beberapa waktu serta momen tertentu di mana kita dianjurkan untuk lebih memperbanyak istighfar. Di antara waktu-waktu tersebut adalah:

  1. Setelah Menunaikan Ibadah

Allah SWT berfirman,

ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al Baqarah : 199)

Ayat tersebut membicarakan mengenai ibadah haji khususnya setelah thawaf ifadah. Pada saat itulah istighfar dianjurkan, karena dimungkinkan adanya kekurangan seseorang dalam melaksanakan ibadahnya.

Selain itu, dianjurkan pula beristighfar seusai shalat lima waktu. Rasulullah SAW senantiasa beristighfar sebanyak tiga kali seusai mengucap salam dalam shalat wajib. Hal ini dianjurkan karena sangat memungkinkan sekali seorang hamba mengalami kelalaian (tidak khusyu’) ketika melaksanakan shalatnya.

2. Di Waktu Sahur

Di antara salah satu keutamaan waktu sahur adalah di waktu itu Allah SWT akan mendengar doa, mengabulkan permintaan seorang hamba, dan mengampuni orang-orang yang memohon ampunan.

Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ الأَخِيْرِ يَقُوْلُ : مَنْ يَدْعُوْنِيْ فَأَسْتَجِيْبَ لَهُ, مَنْ يَسْأَلُنِيْ فَأُعْطِيَهُ, مَنْ يَسْتَغْفِرُنِيْ فَأَغْفِرَ لَه

“Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir, (kemudian) Dia berfirman, ‘Barang siapa berdoa kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan, barang siapa meminta kepada-Ku, niscaya akan Aku berikan, dan barang siapa memohon ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni.’” (HR Bukhari Muslim)

3. Pada Akhir Majelis

Diriwayatkan dari Aisyah RA, bahwasanya Rasulullah SAW setiap berdiri dari suatu majelis, beliau selalu mengucapkan:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ  ربي وَبِحَمْدِكَ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ ربي وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

“Maha Suci Engkau ya Allah, ya Rabbku. Dan dengan senantiasa memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada tiada Tuhan melainkan Engkau, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.

Maka Aisyah RA pun bertanya, “Wahai Rasulullah, betapa seringnya engkau mengucapkan kalimat tersebut tatkala engkau berdiri (dari majelis).”

Rasulullah SAW pun bersabda, “Apabila seseorang mengucapkan doa tersebut saat berdiri dari majelisnya, Allah akan mengampuni dosa yang ia lakukan selama di dalam majelis tersebut.”

4. Beristighfar Untuk Orang yang Sudah Meninggal

Pada suatu ketika, usai menguburkan jenazah, Rasulullah SAW berdiri di sisi kuburan seraya bersabda:

اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ

“Mintakanlah ampunan untuk saudara kalian ini, dan mohonkanlah baginya keteguhan, sebab saat ini dia sedang ditanya. (HR Abu Dawud)

Hal ini menunjukkan betapa butuhnya mayit kepada istighfar kepada Allah SWT. Hingga karenanya, Rasulullah SAW senantiasa memintakan ampunan bagi orang-orang yang sudah meninggal tatkala beliau menziqarahi mereka dan berdiri di sisi kuburan mereka.

*Dinukil dari : Terapi Dengan ibadah (AQWAM)

Leave A Reply

Your email address will not be published.