
Oleh karena itulah, Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam mewasiatkan kepada kita untuk mementingkan faktor ini, yaitu dalam sabda beliau (yang artinya):
“Dapatkanlah isteri yang memiliki agama (yang baik); niscaya kamu akan beruntung..”
📚[ Muttafaqun alaih; Shahih Bukhori: 5090, Shahih Muslim: 1466 ].
Bahkan Sahabat ‘Umar bin Khottob -rodhiallohu ‘anhu- saat menjadi khalifah pernah ditanya seorang perempuan:
“Wahai amirul mukminin, suamiku telah menyumpahku agar aku tidak berbohong, sehingga aku merasa bersalah jika berbohong, apakah aku masih boleh berbohong wahai amirul mukminin”
🎙️Maka sahabat ‘Umar pun menjawab:
“Ya, silahkan berbohong kepada kita (sebagai suami).. jika salah seorang dari kalian (para isteri) tidak suka kepada kami (para suami), maka jangan katakan (ketidak sukaan) itu kepadanya !
Karena, rumah tangga yang dibangun di atas rasa cinta itu sangat sedikit.
Namun manusia biasanya menjalin hubungan itu karena Islam, hubungan nasab, dan jiwa sosial..”
📗 [ Alma’rifah wat tarikh 1/392 ].
✍️Dan hendaklah kita selalu ingat sabda Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- (yang artinya):
“Janganlah seorang mukmin (suami) membenci seorang mukminah (isteri), karena jika dia membenci salah satu perangainya; dia pasti masih suka perangai yang lainnya.”
📚 [ HR. Muslim: 1469 ].
Ditulis oleh: Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى